Senin, 15 Maret 2021

Duplikasi tanpa izin

Kamu dikasih sertifikat tanah dan rumah sama mamak kau, lalu ada orang yang bikin duplikatnya tanpa izin mamak kau dan tanpa izin dari mu. Itu sopan gak?

Bahkan teman teman mu sudah keberatan
"Janganlah bang, adow aku takut sekali lah ini" berkali kali diingatkan tapi kau kepala batu

"Alah gak apa apa, santuy bro, mamaknya sudah mati, gak apa apa kita bikin duplikatnya"

Ini sopan gak?

Nah al Qur'an telah diwariskan nabi kepada imam Ali as

Dikutip dari Az-Sanjani [Tarikh. Hm 66]:
Diriwayatkan bahwa Nabi SAW berwasiat pada Ali:
“Hai Ali, al-Qur’an ada di belakang tempat tidurku,
(tertulis) di atas suhuf, sutera dan kertas.
Ambil dan kumpulkanlah. ………"
Ali menuju ke tempat itu dan membungkus bahan-bahan tersebut dengan kain berwarna kuning.
[Zarkashi. al Burhan fi ulum al Quran. Jilid 1. Hlm 235, 237-238, 256, 258; Suyuti, Al Itqan fi ulum al Quran. Jilid 1. Hlm 212-213, 216]

Bahkan abu bakar pun tidak dikasih, lalu Umar mengusulkan untuk membuat duplikasinya, sama, isinya sama, tapi sopan gak?

Bahkan sudah dilarang sama sahabat sahabat yang lain

Zaid melaporkan,
Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran alYamama yang menelan 
korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. 
Abu Bakr mulai berkata," ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam 
pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal AlQur'an 
(qurra'),4 dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai 
akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur'an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat 
agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur'an." Abu Bakr menambahkan, "Saya 
katakan pada 'Umar, 'BAGAIMANA MUNGKIN KAMI MELAKUKAN SATU TINDAKAN YANG NABI MUHAMMAD TIDAK PERNAH MELAKUKAN?' 'Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji terlepas 
dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap KEBERATAN KAMI sehingga Allah memberi 
kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! 
Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi 
Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Qur'an 
agar dapat dirangkum seluruhnya." Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami me-
mindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka 
perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat 
melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?' Abu Bakr dan ‘Umar 
BERSIKERAS mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. 
Mereka tak HENTI-HENTI menenangkan rasa KEBERATAN yang ada hingga akhirnya Allah 
menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan 
‘Umar. ( Al-Bukhari, sahih , Jam'i Al-Qur'an, hadith, no. 4986; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif)

Baca coba yang ditandai huruf kapital, tak henti hentinya abu bakar dan Umar berusaha meyakinkan keberatan para sahabat yang tentunya juga tak henti hentinya diingatkan, tapi dasar bandot tua, keras kepala dan bandel

Ngeyeeeeelnya ampun ampunan, maka dibuatlah duplikasi Al Qur'an, padahal gak boleh karena nabi gak pernah membuat duplikasinya, hanya yang diserahkan kepada imam Ali as lah Al Qur'an yang sah milik nabi

Lalu yang diduplikasi ini gimana hukumnya? Ya legal, gak sah, walaupun isinya sama

Ya persis kayak sertifikat rumah mu yang diduplikasi, isinya sama, ya katakanlah seperti itu, sama tapi nilainya beda, satu legal dan punya manfaat yang satunya lagi ilegal dan gak bermanfaat kecuali sekedar pemberitahuan bahwa ada sertifikat yang asli

Sama seperti kamu bawa copyan sertifikat ke bank bisa bermanfaat gak? Ya kagak, kecuali disertakan yang aslinya. 

Lalu mana aslinya? Ya datang dong ke rumah pemilik sertifikat

Masa nanya, "mana Al Qur'an nabi yang diserahkan kepada imam Ali as kalo memang ada?" Lah ke rumah imam Ali as lah nak, kesana,. Bertamu dong dengan sopan, takzim, penuh kecintaan dan loyalitas

Masa Lo petangtang petenteng nanya "Woi Mana Al Qur'an nabi, sini saya mau lihat!!" Masa gitu? Yang sopan, kasih salam, cium tangan, Salim, ini keluarga nabi, ke rumahnya dong kalo mau lihat Al Qur'an nabi yang asli

Kalo sudah disana maka lihat lah gimana Budi pekerti mereka, kasih sayang mereka, ajaran ajaran mereka maka kau akan temukan Al Qur'an asli disana

Sambil bawa Al Qur'an duplikatnya, dan cocokkan satu demi sata maka kau akan temukan Al Qur'an asli warisan nabi

Jangan teriak teriak depan rumahnya "woi mana Al Qur'an nabi!" Kagak sopan, bisa dikepret Jibril loh! Mau Lo dikepret sama malaikat Jibril? 

Kalo gak mau, ya yang sopan, datang ke rumah ahlul bait nabi, bertamu, bila perlu jadi pelayannya dan resapi kehidupan mereka maka disanalah kau temukan Al Qur'an yang asli, asli dari nabi

Karena Al Qur'an itu untuk diamalkan, dan yang dapat mengamalkan Al Qur'an ya yang memilikinya dong, siapa? Ya Ahlul bait

Makanya nabi bersabda aku tinggalkan (wariskan) dua yang berat, pertama adalah Al Qur'an kedua adalah ahlul bait ku

Karena ahlul bait nabi inilah yang diwariskan Al Qur'an dan mereka telah mengamalkan semuanya, maka datangi mereka secara sopan dan penuh takzim, cium tangan mereka dan jadilah pelayannya, maka kau akan bertemu Al Qur'an yang asli dan dengannya kamu bisa memperoleh manfaatnya, yaitu Jannah dunia wal akhirat

Tanpa itu ya Al Qur'an mu hanya duplikatnya gak bermanfaat sama sekali, kecuali sekedar pemberitahuan bahwa ada sertifikat aslinya, dimana? Dalam diri dan kehidupan Ahlu bait nabi

masih tentang Al Qur'an

Coba perhatikan hadis dari Zaid bin Tsabit dibawah ini

Zaid melaporkan,
Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran alYamama yang menelan 
korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. 
Abu Bakr mulai berkata," ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam   pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal AlQur'an 
(qurra'),4 dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai 
akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur'an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat 
agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur'an." Abu Bakr menambahkan, "Saya 
katakan pada 'Umar, 'BAGAIMANA MUNGKIN KAMI MELAKUKAN SATU TINDAKAN YANG NABI MUHAMMAD TIDAK PERNAH MELAKUKAN?' 'Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji TERLEPAS 
DARI SEGALANYA (apa maksudnya ini?) dan ia tidak berhenti menjawab sikap KEBERATAN KAMI sehingga Allah memberi 
kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! 
Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi 
Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. CARILAH SEMUA AL-QUR'AN agar DAPAT DIRANGKUM SELURUHNYA." Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami memindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada MEREKA (Abu bakar dan Umar), ‘KENAPA KALIAN BERPENDAPAT MELAKUKAN SESUATU YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN OLEH NABI MUHAMMAD?' Abu Bakr dan ‘Umar 
BERSIKERAS mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. 
Mereka tak HENTI-HENTINYA menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah 
menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan 
‘Umar.⁵

Catatan kaki
5.  Al-Bukhari, sahih , Jam'i Al-Qur'an, hadith, no. 4986; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif,

Perhatikan, para sahabat nabi sangat keberatan, sangat sangat keberatan, KEBERATAN yang diulang berkali-kali dan tak henti hentinya disampaikan, ini artinya benar benar satu perkara yang sangat melengggar ketentuan Allah dan NabiNya. Tapi abu bakar dan Umar tak henti hentinya pula bersikeras meyakinkan bahwa ini tidak apa apa

Ini ada apa? Koq para sahabat lain tak henti hentinya ketakutan dan keberatan serta tak henti hentinya pula mengingatkan bahwa hal ini tidak pernah dilakukan nabi Muhammad Saw? Itu artinya apa yang diperintahkan oleh Abu bakar dan Umar dalam menduplikasi Al Qur'an adalah ilegal, nista, terlarang dan tidak pernah dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Itu artinya Al Qur'an ini sama seperti sertifikat, BPKB, atau surat akta.

Yang hanya tidak boleh diduplikasi

Lalu gimana ummat bisa dapat petunjuk jika tidak boleh diduplikasi? Ya baca ditempat

Artinya baca dirumah pemilik sertifikat, atau BPKB jika mau melihat isi sertifikat atau BPKB tersebut. Bukan malah membuat duplikasinya tanpa izin. Inilah keberatan para sahabat nabi atas usulan Umar dan Abu bakar

Itu artinya Allah dan NabiNya hanya mau ummat ini membaca Al Qur'an ketempat dimana Al Qur'an ini diwariskan

Dikutip dari Az-Sanjani [Tarikh. Hm 66]:
Diriwayatkan bahwa Nabi SAW berwasiat pada Ali:
“Hai Ali, al-Qur’an ada di belakang tempat tidurku,
(tertulis) di atas suhuf, sutera dan kertas.
Ambil dan kumpulkanlah. ………"
Ali menuju ke tempat itu dan membungkus bahan-bahan tersebut dengan kain berwarna kuning.
[Zarkashi. al Burhan fi ulum al Quran. Jilid 1. Hlm 235, 237-238, 256, 258; Suyuti, Al Itqan fi ulum al Quran. Jilid 1. Hlm 212-213, 216]

Itu artinya jika seseorang ingin membaca Al Qur'an dan mendapatkan petunjuk darinya maka datang lah ke rumah imam Ali as. Karena Al Qur'an nabi Muhammad Saw telah diwariskan kepada imam Ali as sebagai rasul saksinya

Inilah yang ingin dilakukan oleh Abu bakar dan Umar dengan membuat duplikasi Al Qur'an agar orang tidak perlu lagi mendatangi imam Ali as karena duplikasi Al Qur'an telah ada ditangan mereka

Isinya mungkin saja sama, tapi tujuan Allah dan NabiNya tidak terlaksana

Apa tujuan Allah dan NabiNya? Ingin agar orang hanya datang pada imam Ali as jika mau mendapatkan petunjuk, menyalin atau menduplikat Al Qur'an tentu dengan segenap penjelasan tafsirannya agar manusia tidak salah dalam memahami Al Qur'an.

Sebab Al Qur'an jika masuk kedalam jiwa yang kotor hanya akan menyebabkan kekotoran di dalam hatinya

Pengampunan (At-Tawbah):125 - Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekotoran hati mereka, disamping kekotorannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.

Makanya Al Qur'an harus dipahami lewat jalur yang suci agar tidak malah membuat kekafiran bagi pembacanya

Shahih Muslim

Pertama : Hadits Zaid bin Arqam (shahih)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad, keduanya dari Ibnu ‘Ulayyah: telah berkata Zuhair: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim: telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan: telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan, ia berkata: “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Hushain bin Sabrah dan ‘Umar bin Muslim. Setelah kami duduk. Hushain berkata kepada Zaid bin Arqam: ‘Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah i, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah shalat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami -wahai Zaid– apa yang engkau dengar dari Rasulullah !’ Zaid bin Arqam berkata : ‘Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah i. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya.’ Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan: ‘Pada suatu hari Rasulullah i berdiri berkhutbah di suatu sumber (mata air) yang disebut Khumm yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ

‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia (seperti kalian). Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang, lalu aku menjawabnya. Aku akan meninggalkan di tengah kalian Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu: Pertama, Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah kitabullah dan berpegang teguhlah kalian kepadanya.’ Beliau menghimbau dan mendorong untuk mengikuti Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan: ‘(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlubaitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Maka Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Wahai Zaid, siapakah ahlulbait Rasulullah i? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlulbaitnya?’ Zaid bin Arqam menjawab: ‘Istri-istri beliau  memang ahlulbaitnya, namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau.’ Hushain berkata: ‘Siapakah mereka itu?’ Zaid menjawab: ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.’ Hushain berkata: ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat?’ Zaid menjawab: ‘Ya.’

fakta mereka sedang tidak baik baik saja

Berkali kali saya membaca tulisan prof Dr MM Al'Azami pada penjelasan soal pembukuan Al Qur'an zaman Abu bakar, Umar dan zaman Usman ketika mushaf Al Qur'an resmi diterbitkan dan disebarkan keseluruh pelosok pemerintahan

Tidak ada nama imam Ali as dilibatkan dalam proses pembukuan Al Qur'an

Mengapa?

Katanya Abu bakar Umar Utsman gak ada masalah dengan Imam Ali as tapi koq gak dilibatkan dalam urusan maha penting itu?

Urusan Al Qur'an itu adalah urusan maha penting, mengapa abu bakar Umar dan Usman tidak menjadikan imam Ali as sebagai salah satu rujukan dalam penyusunan atau paling tidak dimintai pendapatnya?

Coba lihat dalam petikan ini

Ibn Sirin, (w. 110 H.) 
meriwayatkan,

Ketika 'Uthman memutuskan untuk menyatukan Al-Qur'an, dia mengumpulkan 
panitia yang terdiri dari dua belas orang dari kedua-dua suku Quraish dan Ansar. Di 
antara mereka adalah Ubayy bin Ka'b dan Zaid bin Thabit⁸

Identitas dua betas orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. AI Mu'arrij as-Sadusi 
menyatakan, "Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada 
(1) Sa'id bin al-'As bin Sa'id bin al-'As untuk 
dibaca ulang;"⁹ dia menambahkan 
(2) Nafi' bin Zubair bin `Amr bin Naufal.¹⁰ Yang lain termasuk 
(3) Zaid bin Thabit, 
(4) Ubayy bin Ka'b, 
(5) 'Abdullah bin az-Zubair, 
(6) 'Abrur-Rahman bin Hisham, dan 
(7) Kathir bin Aflah.¹¹ Ibn Hajar menyebutkan beberapa nama lain: 
(8) Anas bin Malik, 
(9) ' Abdullah bin 'Abbas, dan 
(10) Malik bin Abi 'Amir.¹² Dan al-Baqillani menyebutkan selebihnya 
(11) 'Abdullah bin `Umar, dan 
(12) 'Abdullah bin 'Amr bin al-'As.¹³

Tidak ada satupun nama imam Ali as sejak zaman Abu bakar Umar dan Utsman, ini pastinya ada perselisihan, sehingga Imam Ali as tidak dilibatkan sama sekali

Jadi anggapan kalian bahwa mereka tidak berselisih itu hanyalah upaya menutup nutupi kenyataan yang sebenarnya

mereka sedang tidak baik baik saja kawan, ada perselisihan hebat yang sedang terjadi

Catatan kaki
8. Ibn Sa'd, Tabaqat , iii/2:62. perlu dicatat bahwa Ibn Sirin menggunakan kata 
(mengumpulkan).
9. AI-Mu'arrij as-Sadusi, Kitab Hadhfin min Nasb Quraish, hlm. 35. 
10. Ibid,hlm 42.
11. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 20, 25-26. 
12. lbn Hajar, Fathur Bari, ix 19.
13. AI-Baqillani, al-Intisar (ringkasan), hlm. 358.

Fakta hadis, bahwa duplikasi al Qur'an telah musnah sebagian


Hadis ini sangat menarik sekali

Zaid melaporkan,
Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran alYamama yang menelan korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakr mulai berkata," ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam pertempuran al-Yamama telah MENELAN KORBAN BEGITU BESAR dari para penghafal AlQur'an (qurra'), dan kami KHAWATIR hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur'an akan MUSNAH.
(Al-Bukhari, sahih , Jam'i Al-Qur'an, hadith, no. 4986; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif)

PERHATIKAN kata kata berikut

1. pertempuran al-Yamama telah MENELAN KORBAN BEGITU BESAR dari para penghafal AlQur'an 
2. kami KHAWATIR
3. kemungkinan sebagian Al-Qur'an akan MUSNAH.

Perhatikan kata Zaid bin Tsabit

"kemungkinan sebagian Al-Qur'an akan MUSNAH."

Ini sebagai bukti bahwa memang sebagian Al Qur'an telah musnah, kenapa? 
1. Korban perang Al Yamama itu sangat besar menelan korban para penghafal Al Qur'an
 
Itu artinya jika ada 100 penghapal al Qur'an maka "sebagian besar" artinya 70% telah mati dalam pertempuran, maka sisanya hanya 30%

Kedua, tidak ada penghapal al Qur'an secara utuh 30 juz, mengapa? Karena mereka masuk Islam berbeda beda, ada yang masuk Islam di tahun pertama Islam, ada yang pertengahan dan ada yang akhir, otomatis jumlah hapalan pun berbeda, normalnya orang akan menghapal apa yang dia dengar langsung, otomatis ketika dia belum masuk Islam maka surat Al Qur'an yang telah turun sebelum dia masuk Islam kemungkinan tidak dia hapal, maka itulah abu bakar memerintahkan Umar dan Zaid bin Tsabit untuk menunggu di gerbang masjid untuk mencari siapa yang punya sepotong hapalan atau catatan Al Qur'an, artinya jika ada yang hapal 30 juz maka orang itu pasti langsung dipanggil untuk dijadikan sumber duplikasi Al Qur'an, faktanya? Abu bakar malah memerintahkan Umar dan Zaid bin Tsabit untuk mencari sepotong demi sepotong ayat Al Qur'an di masjid dari jamaah masjid yang mengaku menghafal atau mencatat sepotong ayat tersebut, itu artinya tidak ada yang hafal 30 juz saat itu.

Abu Bakr mengatakan pada 'Umar dan Zaid, "Duduklah di depan pintu gerbang Masjid 
Nabawi. Jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang SEPOTONG ayat dari Kitab 
Allah dengan dua orang saksi, maka tulislah"
(Ibn Abi Dawud, al-Mashafi, hlm. 6. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, ix: 14.)

2. Khawatir, ini adalah tanda bahwa harapan terpenuhinya Al Qur'an secara utuh sudah sagat mengkhawatirkan, penyebabnya ya karena banyak penghapal yang mati, otomatis sumber rujukan menjadi semakin sendikit

Sebagai akibatnya? Ya separuh Al Qur'an tidak dapat terdokumentasi

Sehingga duplikasi Al Qur'an yang ada saat ini adalah hasil duplikasi dari 30% para penghapal sepotong demi sepotong al Qur'an

Maka hasilnya adalah duplikasi 30% Al Qur'an yang ada dihadapan kita saat ini

Ini fakta hadis loh

Atau bisa juga seperti ini;

Dalam hadis itu disebutkan

"dan kami KHAWATIR hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur'an akan MUSNAH."

"Jika terjadi peperangan yang serupa maka dikhawatirkan sebagian Al Qur'an akan Musnah"

Coba cermati hadis ini baik baik,  telah mati sebagian besar penghapal

Lalu abu bakar berkata

Jika terjadi peperangan yang serupa maka dikhawatirkan sebagian Al Qur'an akan Musnah"

Kenyataan Pertama :
Ini artinya Al Qur'an yang tersisa dari wafatnya para penghapal Al Qur'an adalah tinggal 75% saja, atau yang musnah akibat perang Yamamah sudah mencapai 25%, sehingga dia khawatir, sebab jika terjadi pertempuran yang serupa maka genap yang musnah menjadi  50%, Maka itulah dia berkata

"Jika terjadi peperangan yang serupa maka dikhawatirkan sebagian Al Qur'an (50%) akan Musnah" 

Karena memang tinggal 75%, sebab 25% yang lain telah diaggap musnah akibat kematian dalam perang.

Ini adalah pandangan logis dari hilangnya para penghapal, atau konsekwensi logis dari hilangnya para penghapal akibat perang

Kenyataan kedua:
Bagaimana bisa duplikasi bisa utuh jika 25% sumber duplikasinya ikut terbawa mati? Maka itulah duplikasi Al Qur'an saat ini memang tinggal 75% saja

Lalu kemana imam Ali as? Pasti itu yang ditanyakan sebagian orang, kenapa beliau tidak ikut membantu? Coba perhatikan, sepanjang hadis yang saya baca dari penelitian Prof Dr MM Al'Azami, tidak ada nama imam Ali as dalam proses pembukuan Al Qur'an zaman abu bakar dan Umar, ini jelas sebagai bukti bahwa Imam Ali as dan abu bakar terjadi konflik. 

Sebab bagiamana bisa abu bakar tidak melibatkan imam Ali as dalam usahanya untuk membukukan Al Qur'an dari para penghapal Al Qur'an jika tidak ada konflik diantara mereka? Sedang dia tahu bahwa imam Ali as lah orang yang paling pantas dilibatkan sebab dialah manusia pertama yang menyertai nabi sejak awal sampai akhir hidupnya.

Ini bukti bahwa imam Ali as dan abu bakar ada konflik. Sehingga Imam Ali as tidak dilibatkan oleh Abu bakar dalam usahanya dalam mengumpulkan Al Qur'an, penyebabnya hanya satu, konflik

Tentang Al Qur'an



"Abu Bakr mengatakan pada 'Umar dan Zaid, "Duduklah di depan pintu gerbang Masjid 
Nabawi. Jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab 
Allah dengan dua orang saksi, maka tulislah"
(Ibn Abi Dawud, al-Mashafi, hlm. 6. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, ix: 14.)

Mengapa begitu repot mencari siapa yang mempunyai sepotong dua potong ayat Al  Qur'an jika telah jelas siapa siapa saja para pencatat Al Qur'an zaman nabi?

Berikut potongan penjelasan Prof Dr MM Al 'Azami:

"Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang 
enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis wahyu. Mereka adalah Abban bin Sa'id, Abu Umama, Abu Ayyub al-Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu 'Abbas, Ubayy bin Ka'b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, 
Thabit bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa'd, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa'id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa'd bin ar-Rabi`, Sa'd bin `Ubada, Sa'id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha, `Amir bin Fuhaira, `Abbas, `Abdullah 
bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr, `Abdullah bin Rawaha, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa'd,'Abdullah bin 'Abdullah, 'Abdullah bin 'Amr, 'Uthman bin 'Affan, Uqba, al'Ala bin 'Uqba, 'All bin Abi Talib, 'Umar bin al-Khattab, 'Amr bin al-'As, Muhammad bin Maslama, Mu'adh bin Jabal, Mu'awiya, Ma'n bin 'Adi, Mu'aqib bin Mughira, Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan. (Untuk lebih jelas harap dilihat M.M, A'zami, Kuttab an-Nabi)

Nama nama ini zaman itu tentu orang orangnya masih hidup dan dua diantaranya adalah abu bakar dan Umar itu sendiri, sudah pasti mereka mengenal ke 63 penulis yang lainnya. Mengapa abu bakar sendiri malah meminta Zaid bin Tsabit untuk mencari orang orang yang mempunyai tulisan Al Qur'an atau hapalan? Mengapa dia sendiri tidak mengeluarkan catatannya yang dulu nabi pernah menjadikan dirinya sebagai salah satu penulis Al Qur'an? Kemana catatannya itu? Tidak ada pada mereka? Tentu saja tidak ada, sebab catatan catatan itu ada pada nabi sebab jika catatan catatan itu ada pada mereka maka sudah pasti abu bakar tinggal menyebutkan satu persatu nama nama pencatat Al Qur'an dan mendatangi rumah mereka untuk mengumpulkan catatan itu, dan selesai, tinggal dibukukan.

Kenyataannya? Tidak demikian, itu artinya mereka tidak memegang catatan itu kecuali hadirin yang tidak secara khusus dijadikan pencatat Wahyu hanya saja mereka ikut mencatat Wahyu saat nabi membacakan ayat Al Qur'an dihadapan mereka. Dari sanalah Al Qur'an bisa diduplikasi yang hasilnya bisa kita pegang hari ini

Itu artinya duplikasi pertama Al Qur'an melalui jalur hafalan dan tulisan tulisan catatan sahabat nabi bukan dari dokumen nabi sendiri, hasilnya ya tentu tidak bisa dijamin selengkap dokumen nabi itu sendiri karena bukan hasil salinan langsung.

Sekalipun demikian, bahwa Al Qur'an sekarang adalah duplikasi dari hapalan para sahabat dan tulisan sahabat, tetap diterima sebagai Al Qur'an, Krn biarpun tidak selengkap Al Qur'an yang ditulis oleh 65 penulis tapi tetap adalah ayat Allah

Sama kayak nasi satu loyang yang tersedia hanya sepiring maka nasi sepiring itulah yang kita terima sebagai konsekwensi yang ada.

Lalu kemana Al Qur'an yang merupakan dokumen Nabi? Tentu disimpan nabi sebagai bentuk pertanggungjawaban beliau kelak di akhirat sebagai barang bukti telah menyampaikan Wahyu kepada ummat, saksinya adalah imam Ali as

Lalu bagaimana ummat bisa membaca Wahyu yang disampaikan nabi jika dokumen itu disimpan nabi?

Penjelasannya seperti ini

Al Qur'an itu saat diwahyukan dari Jibril kepada  nabi dan nabi menyampaikan kepada ummat maka ada 3 catatan yang terjadi saat itu

Pertama dicatat oleh para sahabat nabi yang ditunjuk oleh nabi sebagai juru tulisnya

Kedua, dicatat oleh para malaikat di malail a'la dan disimpan dalam kitab kitab yang dimuliakan

:

فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ بِأَيْدِي سَفَرَةٍ كِرامٍ بَرَرَةٍ

di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. ('Abasa: 13-16)

Catatan yang ditulis oleh malaikat ini disebut juga lembaran lembaran yang disucikan yang isinya adalah semua isi kitab kitab termasuk Al Qur'an

{فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ}

di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. (Al-Bayyinah: 3)

Ketiga, dicatat oleh ummat secara mandiri, sebagai pegangannya masing masing

Nah yang dicatat oleh ummat secara mandiri inilah yang dikumpulkan menjadi mushaf yang saat ini kita pegang yang prosesnya panjang dan berlika liku, dan telah disepakati baik Sunni maupun syiah sebagai Al Qur'an yang tersedia dari zaman sahabat nabi

Sedangkan Al Qur'an yang dicatat oleh malaikat di malail a'la adalah catatan Al Qur'an yang akan digunakan untuk membimbing ummat setelah ketiadaan nabi, dimana catatan ini hanya bisa dibaca oleh para rasul saksi. Hal ini pun telah dikenal oleh ahli kitab, bahwa ada para malaikat pencatat yang mencatat semua kejadian termasuk ayat apa saja yang diturunkan kepada para nabi, hal inilah yang diminta oleh ahli kitab dan kaum musyrikin sebagai Al bayyinat atau bukti bahwa nabi Muhammad Saw adalah seorang nabi, bahwa jika nabi Muhammad Saw benar benar nabi maka dia harus bisa mendatangkan seorang rasul yang dapat membacakan lembaran lembaran yang disucikan tersebut. Sebab mereka mau memastikan apakah Al kitab yang ada ditangan mereka masih otentik 100% sama seperti yang dicatat malaikat pencatat saat nabi Musa as menerima Wahyu ataukah sudah tidak otentik 100%? Mengapa mereka memaksa nabi melakukan hal itu? Itu karena nabi selalu mendakwahkan bahwa kitab mereka telah mengalami perubahan, maka itulah mereka minta bukti tuduhan tersebut jika nabi benar atas tuduhan itu

Pembuktian (Al-Bayyinah):1 - Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,

Pembuktian (Al-Bayyinah):2 - (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Imam Ali as) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (di malail a'la),

Mengapa rasul yang dimaksud dalam ayat ini adalah imam Ali as? Itu karena orang kafir Quraisy dan ahli kitab menolak beriman, atas dakwah nabi Muhammad dan Al Qur'an yang dibawakannya, sebelum datang kepada mereka satu bukti yang kuat yaitu seorang rasul yang membacakan lembaran lembaran yang disucikan di malail a'la. Itu artinya rasul yang mereka mintakan kepada nabi bukan nabi Muhammad Saw itu sendiri sebab nabi Muhammad itulah yang mereka tolak, masa itu pula yang mereka minta supaya beriman kepada nabi Muhammad?  

Untuk itulah nabi memanggil imam Ali as untuk membacakan lembaran lembaran yang disucikan yang berada di alam malail 'ala, yang isinya adalah semua kitab kitab

Pembuktian (Al-Bayyinah):3 - di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus (termasuk Al Qur'an)

Setelah dibacakan catatan para Malaikat di malail a'la itulah maka mereka yakin bahwa benar kitab yang ada pada mereka, yang diwariskan dari generasi generasi sebelumnya telah terjadi perubahan disana sini, maka itulah mereka berpecah belah dan sebagian beriman kepada nabi Muhammad Saw 

Pembuktian (Al-Bayyinah):4 - Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.

Yang beriman kepada nabi setelah kejadian diatas terekam dalam ayat ini

Pembuktian (Al-Bayyinah):7 - Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Dari sinilah jika ummat mau meminta bacaan Al Qur'an bisa meminta kepada imam Ali as agar dibacakan di alam malail 'ala.

Untuk itulah 6 bulan setelah nabi Muhammad Saw wafat, imam Ali as tidak keluar rumah salah satu penyebabnya adalah imam Ali sedang menyelesaikan penulisan Al Qur'an yang beliau baca langsung dari malail a'la untuk diserahkan kepada ummat, Ketika telah selesai abu bakar yang saat itu sebagai Khalifah menolaknya sebab sudah punya Al Qur'an hasil pengumpulan dari hafalan dan catatan sahabat, karena penolakan itulah maka Al Qur'an itu disimpan oleh imam Ali as sebagai bukti telah menyampaikan Al Qur'an yang otentik sesuai apa yang ditulis di malail a'la, yang nantinya akan dibawa oleh imam Mahdi as di akhir zaman

Dan sebagai hasilnya Al Qur'an yang dirampungkan oleh abu bakar dan Usman itulah yang dipakai ummat sampai hari ini karena tidak ada pilihan lain, sebab pilihan lain itu telah disimpan sebagai bentuk bukti penolakan

Senin, 08 Maret 2021

Bantahan bagian 7

Masih banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini. Tetapi buku ini begitu sangat laris manis dikalangan para penggemar berita bohong, pengikut agama Salafi ,bahkan begitu dibangga-banggakan di berbagai situs anti syiah mereka yang sangat menggemari berbagai berita bohong.
Demikianlah,para pengikut agama Salafi yang begitu menggemari berbagai berita bohong ini kemudian menyebarluaskan cacian dan makian terhadap para pengikut syiah ahlul bait.Ada lagi sebuah fotobergambar orang-orang syiah yang sedang manasik haji kemudian mereka berikan komentar berisi kata-kata yang sangat profokatif: “Lihatlah Orang-orang Syiah Punya Kabah Sendiri di Iran.”Para penggemar berita bohong ini lupa atau pura-pura lupa bahwa ratusan ribu orang-orang syiah tiap tahunnya melakukan ziarah keharomain , Makkah dan Madinah dengan niat Umroh atau haji.
Berita-berita dusta memang sejak berabad-abad lalu biasa dialamatkan kepada para pengikut syiah, seperti sebuah web menyebutkan , di Bandung ada seorang wanita bercadar terkena sakit kelamin gara2 kebanyakan mut`ah. saya bilang, mana ada wabita syiah bercadar? Yang bercadar itu justeru para penganut sekte sesat Salafi yang paling getol menyebarkan gosip-gosip bohong seputar syiah. si penyebar kebohongan lupa bahwa dalam syiah tidak disyaratkan menggunakan cadar.Para pembaca sekalian bisa lihat sendiri di maqam-maqam para Imam syiah, sama sekali tidak akan pernah ditemukan wanita syiah bercadar.

Akhirnya saya tutup pembelaan ini dengan menyitir firman Allah berikut ini : (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (QS. 24:15)

Bantahan bagian 6

Perhatikanlah pula bagaimana   dia menyebut nama ulama besar Syiah Sayid Muhammad Jawad Mughniyah, padahal yang benar adalah “SYEIKH MUHAMMAD JAWAD MUGHNIYAH” karena beliau juga bukan keturunan ahlul bait. Masih banyak lagi kesalahan penyebutan nama dan gelar seperti menyebut Sayid Ali Gharwi (lihat halaman 26), padahal seharusnya Mirza Ali Ghuruwi. Bila mereka kaum fanatik wahabi berdalih bahwa kesalahan dalam penulisan adalah hal biasa,maka bagaimana mungkin kesalahan tersebut terjadi terus menerus, dan berkali-kali, ,apalagi buku tersebut sudah masuk ke cetakan ke empat.Biasanya bila ada kesalahan ketik, pada cetakan ke dua pasti sudah diperbaiki penerbit. 
Anehnya lagi di halaman 111 dia menulis “SAYID MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADUQ”, siapa orang ini tidak ada seorang syiah pun yang pernah mengenalnya, , Apakah maksudnya Syeikh Shaduq yang bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi (gelarnya Syeikh Shaduq ) , ataukah maksudnya adalah Allamah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, salah seorang marja’ syiah di Najaf, atau apakah tokoh fiktif ini hanyaa rekaan Husein Almusawi? ataukah tokoh ini teman hayalan beliau,karena penghayal seperti Husein Almusawi biasanya punya banyak teman khayalan.