Senin, 23 Desember 2019

Jika makna Al Qur'an saja bisa mereka belokkan maknanya maka bagaimana dengan hadis?


Lihat saja buktinya Hud 17, dalam ayat ini ada kata 

AfaMAN kana ala bayyinatin Mirobbihi

Apakah sama orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur'an) dengan orang yang tidak mempunyai bukti yang nyata? 

Jadi inti pertanyaannya adalah pada kata bukti yang nyata karena hal inilah yang dipertanyakan dan diperbandingkan dalam ayat ini, maka untuk mengetahui siapa yang mempunyai bukti yang nyata ya kita melihat ke atas ayat ini apakah ada dijelaskan atau tidak?

Contoh

Budi pergi ke pasar memakai motor merah BMW
Dia di pasar membeli ikan dan sayur
Dia ditemani Iwan 

Lalu ada pertanyaan, 
Apakah sama orang yang mempunyai motor merah BMW dengan orang yang tidak mempunyai motor merah BMW?

Nah untuk menjawabnya Kita tinggal melihat ke atas apakah ada disinggung motor merah BMW? Jika ada maka maka dialah orang yang dimaksud dalam pertanyaan diatas, dan karena yang mempunyai motor merah tersebut adalah Budi maka dialah yang dimaksud dengan pertanyaan diatas

Anak SD pun saya yakin paham dengan mudah karena ini bahasa sederhana sekali

Nah dalam ayat Hud 17 Allah memakai kata Al bayyinat atau bukti yang nyata sebagai kata inti kalimat perbandingan diatas , maka kita tinggal melihat keatas siapakah orang yang mempunyai bukti yang nyata itu, dan kita dapat jawabannya pada ayat Hud 12 dan 13

Nabi Hud:13 - Bahkan mereka mengatakan: "MUHAMMAD telah membuat-buat Al Quran (bukti yang nyata) itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

Nah koq bisa bisanya baik tafsir, terjemahan, dimana pun di dunia ini tidak ada yang bisa melihat hal ini? Padahal sangat mudah memahami ayat ini, karena Al bayyinat yang dimaksud adalah Al Qur'an yang mulia dan itu hanya ada pada nabi Muhammad Saw sesuai as saf ayat 6

Satu barisan (Aş-Şaf):6 - Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Mengapa mereka tidak melihat ayat Ini? Dan bahkan Ibnu Katsir memakai kata orang orang beriman secara umum yang membawa fitrah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayat ayat diatasnya, dimana dia mengartikan Al bayyinat dengan kata fitrah

sebenarnya ada apa? Apakah ini kesengajaan atau ketidaksengajaan? Tidak mungkin tidak sengaja, pasti sengaja ingin membelokkan makna ayat Hud 17 yang sebenarnya

Ini artinya ada upaya untuk menyembunyikan satu rasul saksi dalam Hud 17

Ini adalah kesengajaan membelokkan makna ayat. Itu artinya jika ayat Al Qur'an mereka berani belokkan maknanya maka bagaimana dengan hadis? Tidak usah ditanyakan lagi

Nabi Hud:19 - (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat.

Akibatnya? Milyaran sudah ummat Islam tersesat dalam kurun waktu seribu empat ratus tahun, bisa hitung berapa jumlah mereka? Belum lagi korban dari tersesatnya mereka, karena pasti ada korban dari orang orang yang salah dalam beragama, lihat saja ISIS dll, bisa hitung jumlah mereka? Apakah anda akan ridho dan diam saja lalu menutup mata seolah olah tidak terjadi apa apa? Saudaraku anda akan ditanya akan hal ini! SEBARKAN DAN SAMPAIKAN KEPADA DUNIA KESALAHAN TERBESAR INI

Minggu, 22 Desember 2019

IMAMAN adalah para saksi yang siddiqin


Besi (Al-Ĥadīd):19 - Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi SAKSI di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.

Jadi ada orang orang yang emang akan menjadi saksi di sisi Tuhan, yang ucapan mereka ini akan menjadi hujjah ketetapan Allah bagi mereka yang bersalah, dan mereka pasti Maksum, tidak mungkin orang yang tidak terjaga kesuciannya, sebab akan menyebabkan kedzaliman jika menjadikan orang yang tdk Maksum alias tidak suci sebagai saksi yang mana ucapan saksi tadi menjadi penentu nasib seseorang, bisa bisa orang tersebut teraniaya karena kesalahan dalam bersaksi, maka saksi ini wajib suci

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Dalam ayat ini para saksi diatas akan menetapkan keputusan "orang orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka", lalu kutukan Allah ditimpakan kepada mereka yang berdusta tadi (termasuk Ibnu Katsir Al Kazzab yang berdusta atas nama Allah dalam tafsirnya dalam Hud 17), itu artinya para saksi ini adalah orang orang maksum atau suci yang perkataannya tidak boleh salah dan mengandung hawa nafsu.

Siapa mereka? Satu diantaranya adalah dia yang disebutkan dalam Hud 17 ini

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa, IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Dialah rasul saksi imam Ali as

Nah selain itu masih ada lagi sebab ayat diatas menyebutkan "orang orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka" jadi bukan hanya satu

Sisanya adalah para IMAMAN yang disebut dalam ayat setelahnya

Waming koblihi kitabu Musa IMAMAN warahmatan

Nabi Hud:17 - .. dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Nah kata IMAMAN dalam ayat ini adalah para saksi saksi tersebut, merekalah yang akan menjadi jembatan antara kitab dan Rahmat

Artinya jika mau Kitab Allah menjadi Rahmat maka harus melalui IMAMAN, karena mereka adalah maksum atau suci, sehingga Kitab yang suci dapat menuntun manusia tanpa ternoda oleh faktor faktor yang tidak suci

Itulah sebabnya Allah memberikan contoh pada kasus kitab Musa as sebab pada zaman Musa contoh ini sudah ada

Jamuan (Al-Mā'idah):12 - Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Sehingga kita disuruh memilih apakah mau atau tidak menjadikan kitab menjadi Rahmat, kalo tidak mau ya tidak dipaksa, tapi resiko tanggung sendiri sebagaimana ummat Musa yang tidak taat pada akhirnya menciptakan kerusakan dimuka bumi, makanya Allah memberikan contoh kepada Kitab Musa as, karena sudah ada dampak negatifnya akibat dari menolak taat pada imam imam mereka.

Itulah sebabnya ayatnya berbunyi waming koblihi kitabu Musa IMAMAN warahmatan

Dan sebelumnnya telah ada kitab Musa IMAMAN warahmatan

Sabtu, 21 Desember 2019

Ibnu Katsir Al Kazzab



Mengatakan "Allah menceritakan" adalah mengatasnamakan Allah namanya, maka wajib menunjukkan dimana Allah menyatakan atau menceritakan hal itu jika tidak maka dusta atas nama Allah 

Nabi saja dilarang ngarang atas nama Allah gimana bisa dia berani menyatakan seperti itu

Hari kiamat (Al-Ĥāqqah):44 - Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,

Hari kiamat (Al-Ĥāqqah):45 - niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.

Hari kiamat (Al-Ĥāqqah):46 - Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

Ketika dia mengatakan ALLAH MENCERITAKAN Maka itu sama saja mengatakan bahwa Allah lah yang menyatakan bahwa dalam Hud 17 bercerita seperti apa yang dia simpulkan itu sehingga menutup kemungkinan tafsiran lain dan ini sesat kerena jelas menyebabkan tafsiran selainnya akan dinyatakan salah karena telah divonis itulah cerita yang "diceritakan Allah", dan ini adalah dosa besar manakala tidak seperti itu adanya

Seharusnya dia membuktikan terlebih dahulu apa itu bukti yang nyata, apakah fitrah seperti yang dia sangka atau bukan? Bukan malah langsung menyatakan "Allah menceritakan perihal orang yang beriman yang berada diatas fitrah"?  Ini adalah simpulan dia atas ayat ini

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Maka ketika dia melihat kata bukti yang nyata maka dia kira itu adalah Fitrah yang ada pada semua orang beriman? Maka keluarlah pernyataannya bahwa 

"Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:

{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia me­nurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.

Ini adalah simpulan dia dalam melihat ayat Hud 17 dan menyatakan seperti itu, nah ketika dia menisbatkan atau menyandarkan pernyataannya sebagai "Allah yang menceritakan" apalagi dengan menukil surat Ar rum 30 untuk memperkuat sangkaannya itu, maka sama saja dia telah berdusta atas nama Allah sekaligus menutup penafsiran selain apa yang dia nyatakan, sehingga ummat akan merasa itulah kebenaran. Ini adalah aksi menutup tafsiran lain selainnya sehingga ummat akan serta merta menolak tafsiran selainnya. Ini namanya dosa besar karena selain mengatasnamakan Allah juga menutup tafsiran lain, bagaimana jika tafsiran dia salah? Itu sama saja menutup tafsiran lain yang bisa saja lebih hak dan benar

Ini sama saja menghalang halangi kebenaran dan membelokkan agama ke arah yang tidak semestinya.

Maka seharusnya publik lebih jeli dan seharusnya jika dia mau jujur melihat "bukti yang nyata" itu pada ayat ayat diatasnya bahwa bukti yang nyata adalah Al Qur'an karena Al Qur'an lah yang menjadi salah satu topik pembicaraan di ayat Hud 1, hingga 12, dan 13

Nabi Hud:13 - Bahkan mereka mengatakan: "MUHAMMAD telah membuat-buat Al QUR'AN (bukti yang nyata) itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

kemudian baru dipertegas dengan  as saf 6

Satu barisan (Aş-Şaf):6 - Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa BUKTI-BUKTI YANG NYATA, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Ini lebih masuk akal ketimbang dia menyatakan bahwa bukti yang nyata itu adalah fitrah? Darimana Allah berbicara soal fitrah dari ayat pertama surat Hud? Mengapa dia bisa beranggapan bahwa bukti yang nyata itu adalah fitrah? Ini jelas hanya prasangka dia semata

Nabi Yunus (Yūnus):36 - Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan sangkaan dia ini dia ambil dari surat Ar rum 30? Jauh sekali dia mengambil arti bukti yang nyata ke surat Ar rum ketimbang melihat ke ayat atas Hud 12, dan 13 yang nyata nyata menyatakan bukti yang nyata itu adalah Al Qur'an

Mengapa dia melakukan hal itu? Itu karena dia tidak mau publik tau bahwa Nabi Muhammad Saw lah yang dimaksud dalam ayat Hud 17 diatas pada kalimat 
"afaMAN kana ala bayyinatin"
Apakah orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur'an)
Orang yang dimaksud adalah nabi Muhammad Saw sesuai Hud 13 yang menyatakan dengan jelas nama Nabi Muhammad Saw dan diperkuat dengan as saf ayat 6

Tapi mengapa dia tidak mau publik tau? Itu karena jika ditafsirkan seperti ini maka posisi "saksi dari Allah" pada kalimat selanjutnya akan ditempati oleh Imam Ali as sebagai rasul saksi sebab dalam ayat itu diikuti oleh kalimat
"wayatluhu syahidun minHu"
" Dan dia (Muhammad Saw) diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah" nah siapa orang yang mengikuti nabi sejak mula mula dakwah di Makkah? Ya imam Ali as. Karena ayat ayat Hud diatas jelas menyatakan kisah dakwah nabi kepada kaum kafir Quraisy di makkah, maka dengan mudah orang akan mengetahui siapa saksi dalam Hud 17 itu dan ini yang dia tutup tutupin dengan berdusta atas nama Allah

Sebab jika disimpulkan akan seperti ini ayat Hud 17

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Itu artinya mashabnya dengan sendirinya akan batal, dan mashab syiahlah yang akan menang, dan ini yang tidak dia inginkan, makanya dia akhirnya harus berbohong demi menutupi kebenaran syiah karena dia bermashab sunni dan tentu akan dibunuh penguasa saat itu yang juga bermashab sunni

Agama Islam kalian gugur dan batal demi Hukum


Akidah, syariat umat Islam disusun berdasarkan ayat ayat ayat Al Qur'an, yang tafsirannya pada umumnya diambil dari kitab tafsir Ibnu Katsir karena ini adalah kitab tafsir tertua yang ada sampai hari ini

Nah bagaimana kah kiranya jika kita menemukan fakta bahwa Ibnu Katsir telah berdusta atas nama Allah? Apakah mungkin tafsirannya bisa dipercayai lagi? Saya rasa hanya orang dungu yang masih akan mempercayainya, sebab seseorang yang sudah berdusta atas nama Allah sejatinya dia telah berbuat kurang ajar kepada Allah

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Dia termasuk golongan kaum yang dzalim, fasik dan sangat memalukan

Mari kita lihat kedustaan apa yang dia lakukan?

Anda coba buka tafsir Ibnu Katsir bab surat Hud, dan buka ayat 17nya, dalam tafsirnya ini dia berani mengatakan bahwa "Allah menceritakan" apa yang dia sampaikan tanpa mendahulukan satu biji hadis ataupun ayat sebagai klaimnya itu

Ini petikan tafsirannya

"Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:

{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia me­nurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.

Di dalam hadis Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرانه ويُمَجِّسانه، كَمَا تُولَدُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعاء، هَلْ تُحِسُّون فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ "

Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi. Sama halnya dengan ternak unta betina yang melahirkan unta dalam keadaan utuh, apakah kalian melihat adanya kecacatan pada telinganya?"

Darimana dia bisa mengatakan "Allah menceritakan perihal orang orang mukmin yang mempunyai fitrah dalam Hud 17"???

Dari ayat ayat sebelumnya tidak ditemukan apa yang dia maksudkan, lalu kenapa bisa dia mengatakan Allah menceritakan bahwa dalam Hud 17 itu bercerita soal orang orang yang beriman dan mempunyai fitrah?

Justru jika kita lihat ayat ayat diatasnya justru Allah menceritakan kisah dakwah nabi yang mempunyai bukti yang nyata dan sedang berdakwah kepada kaum kafir Quraisy, lalu mana yang dia sebut Allah menceritakan tentang orang orang yang mempunyai fitrah itu? Sehingga dia bisa menyatakan itu Allah yang menceritakan? Ini penipuan atas nama Allah! Tidak ada alasan lain, ini penipuan namanya, dan demi menguatkan penipuannya dia mencomot surat Ar rum 30? Dia menipu dua kali dalam ayat ini, sebab darimana dia bisa mengatakan bahwa Ar rum 30 adalah untuk menjelaskan ayat Hud 17, senada saja tidak, sekaitan saja tidak, koq bisa dia mencomot Ar rum 30? 

Mengapa dia tidak memakai ayat ayat sebelumnya? Sebab itu yang seharusnya dia lakukan karena ayatnya satu rentetan kisah, kenapa dia tidak melakukan hal itu?

Ini jelas penipuan namanya

Tujuannya apa? Demi menutup nutupi fakta bahwa orang yang mempunyai bukti yang nyata dalam Hud 17 adalah nabi Muhammad Saw yang namanya tercantum dalam Hud 13

Nabi Hud:13 - Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran (bukti yang nyata) itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

itu artinya jika ini yang dia lakukan dengan benar maka akan terkuak satu fakta bahwa ada rasul saksi yang menyertai nabi

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa, IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Itu artinya dia menutup nutupi kebenaran atas nama Allah, berdusta menyesatkan ummat atas nama Allah agar orang percaya

Tujuannya jelas ingin menyesatkan umat Islam, maka tafsirannya yang dipakai selama ini sudah tidak bisa dipercaya lagi karena sudah terbukti dia berani berdusta atas nama Allah

Maka semua akidah, syariat ummat Islam batal demi hukum karena berdasar atas tafsiran sang pendusta

Agama penipu, Ibnu Katsir Al Kazzab berdusta atas nama Allah


Sabtu 21 Desember 2019
Akhir dari kejayaan Kitab Ibnu Katsir dan hari runtuhnya agama Islam Abal abal

Segala sesuatu punya ajal, ya termasuk kitab Ibnu Katsir itu sendiri. Siapa sangka akhirnya keciduk juga dia berdusta atas nama Allah, dan ini hukumnya adalah dzalim

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Sepandai pandai tupai melompat ya jatuh juga

Dalam kitabnya bab surat Hud ayat 17, setelah mengutip ayat 17 beliau menerangkan bahwa "Allah menceritakan"

Berikut petikannya

Hud, ayat 17
{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (17) }

Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan di­ikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al-Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur'an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:

{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia me­nurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.

Dalam menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir langsung mengatakan
"Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya"

Lah ini ucapan dia atas dasar apa mengatakan bahwa dalam Hud 17 ini Allah sedang menceritakan tentang orang orang mukmin yang berada pada fitrah Allah? Apa ada hadisnya yang menerangkan bahwa Hud 17 itu memang bercerita tentang orang mukmin yang berada diatas fitrah Allah? Koq bisa dia langsung sematkan bahwa itu kata Allah bukan kata dia sendiri? Dia berpendapat baru kemudian dia menyatakan Allah yang menceritakan, ini namanya berdusta atas nama Allah! Al Kazzab!

Gak ada awan gak ada petir tiba tiba hujan, seperti itulah yang terjadi pada Hud 17, tidak ada acuan tiba tiba, ujug ujug Ibnu Katsir mengatakan Allah menceritakan? Apakah dia dapat Wahyu bahwa Hud 17 itu emang tentang orang mukmin yang berada diatas fitrah, sehingga dia bisa berkata atas nama Allah, "Allah menceritakan?" Ini benar benar keterlaluan, mengatasnamakan Allah atas pendapat dia sendiri agar ummat percaya dan yakin seperti itulah yang diceritakan Allah? 

Waduh ini penipuan atas nama Allah, eh kemudian dia mencomot ayat Allah lagi Ar rum 30 demi menguatkan kebohongannya itu, YASSALAAMMM benar benar kurang ajar!
Benar benar keterlaluan!

Jikalau dia terlebih dahulu mengutip hadis bahwa nabi bersabda bahwa Hud 17 itu tentang orang orang yang berada diatas fitrah ya tidak masalah, itu artinya dia berdalil dari hadis sehingga mengatakan hal itu

Ini dia gak mengedepankan hadis terlebih dahulu sebagai dasar ungkapannya, gak ada ayat dasar yang menjadikan dia mengatakan hal tersebut, loh koq bisa mengatakan itu Allah yang menceritakan?

Kalo saja ayat sebelumnya memang menyinggung masalah orang orang beriman yang berada diatas fitrah ya wajar saja jika dia kemudian mengatakan "Allah menceritakan" karena emang dari ayat ayat sebelumnya menceritakan hal itu, lah ini kagak ada ayat ayat sebelumnya yang menceritakan soal itu, koq bisa dia nisbatkan kepada Allah?

Waduh ini benar benar dusta atas nama Allah 

Jika dia bisa berdusta pada ayat ini maka bagaimana dengan ayat ayat yang lain? Apa menjamin dia tidak sedang berdusta juga?

Jika dengan ayat Allah saja dia bisa sekurang ajar ini berdusta atas nama Allah maka bagaimana dengan hadis Nabi Muhammad Saw apakah dia tidak akan berdusta memakai hadis hadis dalam menafsirkan ayat dalam kitab tafsirnya dan mengatasnamakan nabi Muhammad Saw? 

Ini artinya semua tafsiran dia gugur dengan sendirinya karena terciduk berdusta atas nama Allah
Itu artinya ini adalah akhir dari kejayaan kitabnya, dan sekaligus menandai runtuh Islam Abal Abal yang berdiri diatas hujjah Ibnu Katsir itu sendiri

Maaf saya kejam? Kurang ajar, oh tidak ini demi kebaikan kalian, karena kalian sedang beragama diatas pondasi kitab penuh dusta belaka

Ibnu Katsir sang pendusta



Dalam tafsir Ibnu Katsir Hud 17 ada yang aneh, biasa tafsir itu harus mengutip hadis nabi lah, atau atsar

Lah ini dia tidak mengutip hadis maupun atsar sahabat tiba tiba dia bisa mengatakan bahwa Allah yang menceritakan? Dia dapat Wahyu darimana bahwa Hud 17 itu Allah menceritakan tentang orang orang beriman yang mempunyai fitrah?

Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:

{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia me­nurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.

Di dalam hadis Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرانه ويُمَجِّسانه، كَمَا تُولَدُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعاء، هَلْ تُحِسُّون فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ "

Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi. Sama halnya dengan ternak unta betina yang melahirkan unta dalam keadaan utuh, apakah kalian melihat adanya kecacatan pada telinganya?

Lalu dia mencomot ayat ar rum 30? Darimana ceritanya dia menghubungkan Hud 17 dengan ar rum 30 untuk menutupi kebohongannya?

Dia menyatakan "Allah menceritakan", dapat dari mana dia bisa bilang bahwa Allah dalam Hud 17 itu sedang bercerita tentang orang orang beriman yang mempunyai fitrah? Apa emang dari ayat sebelumnya emang Allah sedang menceritakan hal itu? Kan tidak, justru dari ayat ayat sebelumnya Allah justru bercerita tentang dakwah nabi yang mempunyai bukti yang nyata yaitu Al Qur'an yang sedang berdakwah kepada kaum kafir Quraisy, dan gak ada satu ayat pun dalam ayat ayat diatasnya bercerita soal orang orang beriman yang mempunyai fitrah, lalu si penipu ini bisa mengatakan Allah bercerita darimana? Ini penipuan namanya, Allah sedang tidak bercerita soal orang orang beriman yang mempunyai fitrah dalam Hud sebelumnya koq dia bisa mengatakan bahwa Allah sedang menceritakan apa yang dia sampaikan? Apa dia dapat Wahyu yang menyatakan bahwa wahai Ibnu Katsir Hud 17 itu bercerita soal orang orang beriman yang mempunyai fitrah? Lalu untuk menipu ummat dia mencomot surat Ar rum 30? Ini penipuan atas nama Allah

Jelas ini penipuan atas nama Allah

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Ini jelas jelas kedzaliman yang nyata, dan disengaja karena dia tau ada ayat ini bahwa tidak boleh berdusta atas nama Allah tetapi dia tetap menipu ummat

Entah apa yang merasukinya sehingga dia berani menipu milyaran manusia dan menyebabkan kesesatan

Jika dia mau jujur harusnya dia berkata "Allah menceritakan soal dakwah nabi yang mempunyai bukti yang nyata dan nabi  berdakwah kepada kaum Kafir Quraisy diikuti saksi" karena seperti itulah ayat ayat dalam Hud 2 sampai 16 bercerita, bukan malah mengatakan Allah bercerita soal orang yang mempunyai fitrah? 

Ini penipuan besar dan sangat kejam

Jika kepada Al Qur'an yang suci saja mereka dapat berdusta seperti ini maka bagaimana dengan hadis nabi? Yassalam sangat mengerikan, makanya jangan heran jika akibatnya ummat banyak tersesat dan saling menumpahkan darah.

Ya Allah kutuklah mereka yang berani mengatasnamakan DiriMu demi menipu ummat

Kasian milyaran manusia tersesat hingga hari ini, Sangat disesalkan

Jumat, 20 Desember 2019

Pembukuan Hadis Syiah 1


Yang dimaksud dengan hadis Syiah adalah hadis-hadis Nabi saw dan para imam as dari jalur Syiah. Para imam sebagai pengganti Nabi saw memiliki dua keistimewaan; warisan ilmu dan ishmah. Ucapan dan perbuatan mereka memiliki validitas sebagaimana ucapan dan perbuatan Nabi saw.[1]Nabi saw dalam hadis mutawatir Tsaqalain[2]mewasiatkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, karena mereka faktor keselamatan dari kesesatan. Maka hujjiah mereka pun telah disahkan. Oleh karena itu, disamping mencatat riwayat-riwayat Nabi saw, kaum Syiah juga menulis hadis para imam.

Sikap Syiah sejak awal memperbolehkan penulisan hadis sebagai landasan pembukuannya. Nabi saw sendiri telah mendiktekan beberapa hal kepada Ali bin Abi Thalib as.[3] Terkadang beliau saw memberikan tulisan hadis kepada Fatimah[4] sebagai sebuah hal yang berarti baginya.[5] Imam Ali as termasuk katib Nabi saw yang disamping menulis Al-Quran, juga surat-surat perjanjian beliau saw.[6]Berdasarkan riwayat Suyuti,[7] beliau saw juga menganjurkan menulis hadis, terutama dengan sanadnya.

Imam Ali as juga memiliki beberapa orang katib, seperti Ali dan Ubaidillah bin Abu Rafi’.[8] Menurut Ibnu Nadim,[9] terdapat beberapa dokumen dengan tulisan tangan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain as.

Dengan bukti-bukti ini, ketika ulama menyebutkan perbedaan pendapat sahabat Nabi saw terkait penulisan hadis, mereka menyebut nama Imam Ali dan Imam Hasan dalam kelompok orang yang menyetujui penulisan hadis.[10] Para imam lain juga menekankan untuk mencatat ilmu.[11]

Tahapan Pembukuan Hadis Syiah

Tahapan hadis Syiah sejak shudur hingga pembukuan final dapat disebutkan sebagai berikut:

a) Pembukuan Warisan Ilmiah Para Imam as

Kitab pertama yang dibukukan dalam Islam adalah kitab dengan dikte Nabi saw melalui tulisan tangan Ali as. Kitab itu dikenal dengan “Shahifah Jami’ah” atau “Jami’ah”,[12] salah satu sokongan hadis Syiah[13] yang menunjukkan kesesuaian hadis Syiah dengan Sunnah Nabi saw dan juga kecakapan para imam sebagai pewaris ilmu Nabi saw.[14]

Dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunnah terdapat topik “Shahifah Ali”. Shahifah ini mencakup beberapa hukum fikih, seperti diyah, pembebasan budak, tidak diperbolehkannya membunuh seorang mukmin di hadapan kafir.[15]

b) Pembukuan Ushul Hadis

Ushul hadis memformat dasar-dasar pertama hadis Syiah. Menurut istilah para ahli hadis Syiah, “Ashl” jamaknya “Ushul” adalah salah satu jenis kitab hadis. Meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam definisinya, akan tetapi biasanya digunakan sebagai lawan “kitab” atau “tashnif”.[16]

Ushul hadis disusun oleh sahabat-sahabat para imam as. Dengan adanya dorongan untuk menulis hadis dan banyaknya jumlah sahabat para imam, maka ushul yang dibukukan sangat banyak jumlahnya. Ushul ini disebut dengan “Ushul Arba’miah” karena perkiraan jumlahnya mencapai 400 atau karena alasan lain.[17] Ushul Arba’miahini banyak dibukukan oleh murid-murid Imam Baqir, Imam Shadiq dan Imam Kadhim as.[18]Ushul Arba’miah menjadi dasar kitab-kitab hadis Syiah sejak abad ke-3 dan selanjutnya. Kutub Arba’ah dan seluruh karya hadis mutaqaddimin lahir dari Ushul Arba’miah.

Pasca penyusunan Kutub Arba’ah, motifasi ulama untuk mentraskrip ushul mulai berkurang. Disamping itu, sebagian ushul telah lenyap dalam peristiwa pembakaran perpustakaan Karkh Baghdad pada tahun 447.[19]

Berdasarkan bukti-bukti yang ada,[20] ushul hadis dari sisi volume dan jumlah hadis (relatif) terbatas dan tidak dapat dibandingkan dengan kitab-kitab yang ada pada masa-masa berikutnya. Disamping itu, ushul tersebut belum tersusun perbab.[21] Hal itu dikarenakan perhatian para perawi lebih tertuju kepada pencatatan riwayat. Biasanya ushuldikenal dengan nama penulisnya, seperti Ashl Ashim bin Humaid dan Ashl Hafsh bin Suqah.

c) Pembukuan Hadis Abad Ke-3

Pasca wafatnya Imam Ja’far Shadiq tahun 148, mayoritas imam berpindah dari Madinah ke Irak. Akibatnya, hubungan kaum Syiah dengan para imam menjadi terbatas. Untuk mengatasi permasalahan keagamaan, kaum Syiah mengandalkan para ahli hadis dan perawi. Pada masa itu, ratusan murid Imam Shadiq menukil dan menyebarkan hadis di pusat-pusat keilmuan.[22]Ribuan hadis yang mayoritas tidak berbab ada pada mereka.

Untuk pertama kalinya, dengan memanfaatkan riwayat-riwayat yang dimiliki, sebagian murid Imam Shadiq dan Imam Kadhim as, seperti Hariz bin Abdullah Sajistani,[23] Muawiyah bin Ammar[24] dan Muawiyah bin Wahab[25] menulis beberapa kitab tentang Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Keutamaan Haji.

Sejak masa Imam Ridha as, terutama abad ke-3, klasifikasi riwayat sesuai berbagai topik fikih, teologi dan akhlak berjalan cepat. Penulisan kitab di masa itu juga mengalami kemajuan pesat. Pemukanya merupakan generasi ketiga dari ashab ijma’.[26]

Diantara tokoh masa itu adalah Hasan bin Sa’id Ahwazi dan saudaranya Husain, dan Ali bin Mahziyar Ahwazi. Dua bersaudara ini secara bersamaan menulis 30 kitab yang masing-masing menjadi kitab jami’ riwayat dalam tema khusus. Ibnu Mahziyar juga menulis 30 kitab.[27]

Dengan dibatasinya ruang gerak para imam pasa masa itu, tokoh-tokoh hadis beraktifitas di masjid-masjid dan hauzah-hauzah (pusat ilmu agama).[28] Disamping menulis hadis, mereka juga mempersiapkan katalog kitab-kitab hadis, terutama kitab-kitab yang mereka peroleh melalui sima’ dan qiraah.[29]

Kitab-kitab di atas menginspirasi munculnya kitab-kitab hadis yang lebih besar pada abad ke-4 dan ke-5. Syeikh Shaduq meyakini banyak kitab mutaqaddimin sebagai referensi kitab “Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih”.[30] Demikian pula dengan Syeikh Thusi dalam Al-Fihrist, juga “Masyikhah” Tahdzib Al-Ahkam dan Najasyi dalam kitab Rijalnya menyebut jalur mereka hingga ke penulis-penulis ushul dan mushannafat. Saat ini, kitab-kitab tersebut tidak tersisa kecuali sedikit sekali, seperti Mahasin Barqi.[31]

Sejak masa Imam Shadiq as dan setelahnya, sekelompok orang ditunjuk menjadi wakil atau perantara antara imam dan kaum Syiah. Mereka mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan hukum dan menyampaikannya kepada imam. Lalu mereka memperoleh jawaban yang biasanya disertai dengan tulisan dan tanda tangan imam.[32] Terkadang para imam juga mengirimkan surat atau tulisan untuk kaum Syiah melalui para wakil dan menentukan tugas atau taklif mereka dalam menghadapi fenomena-fenomena sosial.[33]

Karena tulisan dan jawaban para imam atas pertanyaan kaum Syiah dianggap sebagai hadis atau riwayat, maka para ahli hadis mengumpulkan dan membukukannya hingga muncul kitab-kitab dengan judul “Masail” dan “Rasail” sebagai referensi-referensi hadis.

Syeikh Thusi saat menjelaskan karya-karya Abdullah bin Ja’far Himyari, menyebut kitab “Masail” dan “Tauqi’at”. Najasyi[34] menyebutkan 3 kitab Abdullah tersebut sebagai berikut: “Masail Ar-Rijal wa Mukatabatuhum Abal Hasan Ats-Tsalits as”, “Masail li Abi Muhammad Al-Hasan as ‘ala Yadi Muhammad bin Utsman Al-‘Amri” dan “Masail Abi Muhammad wa Tauqi’at”. Zakariya bin Adam, Muhammad bin Sulaiman, Harun bin Muslim, Ya’qub bin Yazid, Ya’qub bin Ishaq Sikkit dan Ahmad bin Ishaq Asy’ari termasuk orang-orang yang membukukan “Masail” pada periode ini.[35] Kulaini juga menulis sebuah kitab bernama “Rasail Al-Aimmah”.[36]

Koleksi Rasail dan Masail masih terjaga hingga abad ke-5 dan menjadi bagian referensi Kutub Arba’ah dan kitab-kitab lainnya seperti Ushul Riwa’i. Namun semuanya lenyap secara bertahap setelah taqthi’ dan klasifikasi kontennya.[37]

Ibnu Babawaih menegaskan bahwa ia memperoleh koleksi surat dan tauqi’at Imam Hasan Askari as dari tulisan beliau sendiri melalui Abu Ja’far Shaffar. Harun bin Musa Talla’kabari dan Ahmad bin Husain bin Abdullah Ghadlairi juga mereportasikan bahwa mereka melihat berbagai surat imam ke-11 dan 12.[38]

Ibnu Babawaih[39] dan Syeikh Thusi[40] dari Mutaqaddimin atau Muhammad Baqir Majlisi[41](wafat 1110) dari Mutaakhkhirin mengumpulkan berbagai tauqi’at Imam Mahdi as. (Bersambung)

 

[1] Lihat: QS. Al-Waqiah [96]: 79; Al-Ahzab [33]: 31.

[2] Lihat: Al-Muraja’at, Abdul Husain Syarafuddin, Cetakan Husain Radhi, Beirut 1982/1402, halaman 72 – 75; Al-Bayan fi Tafsir Al-Quran, Abul Qasim Khui, Beirut, 1987/1408, halaman 499: Kemutawatiran Hadis Tsaqalain.

[3] Bashair Ad-Darajat fi Fadhail Ali Muhammad saw, Muhammad bin Hasan Shaffar Qommi, Cetakan Muhsen Koucheh Baghi Tabrizi, Qom, 1404, halaman 167.

[4] Al-Kafi, Kulaini, jilid 2, halaman 667.

[5] Dalail Al-Imamah, Muhammad bin Jarir bin Rustam Thabari, Qom, 1413, halaman 65 – 66.

[6] Tarikh-e Qoran, Mahmoud Ramyar, Tehran, 1362 HS, halaman 266; Rasm Al-Mushaf: Dirasah Lughawiyyah Tarikhiyyah, Ghanim Qadduri Al-Hamd, Baghdad, 1982/1402, halaman 96.

[7] Jilid 2, halaman 63.

[8] Fehrist Asma’ Mushannifi Asy-Syiah Al-Musytahir bi Rijal An-Najasyi, Cetakan Musa Syubairi Zanjani, Qom, 1407, halaman 4 – 6; Rijal Ath-Thusi, Muhammad bin Hasan Thusi, Najaf, 1961/1380, halaman 7.

[9] Halaman 46.

[10] Lihat: Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulum Al-Hadits, Cetakan Shalah bin Muhammad bin ‘Uwaidhah, Ibnu Shalah, Beirut 1995/1416, halaman 119; Tadrib Ar-Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi, Abdurrahman bin Abi Bakr Suyuti, Cetakan Ahmad Umar Hasyim, Beirut, 1989/1409, jilid 2, halaman 61.

[11] Al-Kafi, jilid 1, halaman 52. Lihat juga: Ikhtiyar Ma’rifah Ar-Rijal, Muhammad bin Umar Kasyi, [Ringkasan] Muhammad bin Hasan Thusi, Cetakan Hasan Mustafawi, Masyhad, 1348 HS, halaman 143 – 144; Muhaj Ad-Da’awat wa Minhaj Al-‘Ibadat, Ibnu Thawus, Qom, 1411, halaman 219 – 220 dan Ma’rifah Al-Hadits wa Tarikh Nasyrih wa Tadwinih wa Tsaqafatih ‘inda Asy-Syiah Al-Imamiyyah, Muhammad Baqir Behbudi, Tehran 1362 HS, halaman 23.

[12] Tarikh Tadwin Al-Hadits wa Kitabatuh, Ali Akbar Ghifari dalam Abdullah Mamaqani, Ringkasan Miqbas Al-Hidayah, Cetakan Ali Akbar Ghifari, [Tehran], 1369 HS, halaman 227; Ma’alim Al-Madrasatain, Murtadha Askari, Tehran 1413, halaman 316 – 322.

[13] Lihat: Jami’ah.

[14] Lihat: Al-Kafi, jilid 7, halaman 94 – 95; Ikhtiyar Ma’rifah Ar-Rijal, halaman 376; Rijal An-Najasyi, halaman 360.

[15] Lihat: Shahih Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail Bukhari Ja’fi, Istanbul, 1981/1401, jilid 1, halaman 36; Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hanbal, [Kairo], 1313, Beirut Offset Press, jilid 1, halaman 79, 81, 100, 102, 110, jilid 2, halaman 35, 121; Ikhtilaf Al-Hadits, Muhammad bin Idris Syafi’i, Cetakan Muhammad Ahmad Abdul Aziz, Beirut, 1986/1406, halaman 221.

[16] Lihat: Ashl.

[17] Ar-Ri’ayah fi ‘Ilm Ad-Dirayah, Zainuddin bin Ali Syahid Tsani, Cetakan Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal, Qom, 1408.

[18] Lihat: Pozhuheshi dar Tarikh-e Hadis, halaman 177 – 193.

[19] Yaqut Hamawi, jilid 1, halaman 799; Agha Bozorgh Tehrani, jilid 2, halaman 134: 448.

[20] Lihat: Rijal An-Najasyi, halaman 134 – 135.

[21] Ibid.

[22] Rijal An-Najasyi, halaman 40.

[23] Ibid, halaman 144 – 145; Al-Fihrist, Muhammad bin Hasan Thusi, Cetakan Muhammad Shadiq Ali Bahrul Ulum, Najaf 193/1356, Offset Press Qom, 1351 HS, halaman 62 – 63.

[24] Rijal An-Najasyi, halaman 411.

[25] Ibid, halaman 412.

[26] Lihat: Ikhtiyar Ma’rifah Ar-Rijal, halaman 556; Ashab Al-Ijma’.

[27] Rijal An-Najasyi, halaman 50 – 60, 253 – 254.

[28] Lihat: Pozhuheshi dar Tarikh-e Hadis, halaman 355 – 379.

[29] Risalah Abi Ghalib Ar-Razi ila Ibni Ibnih fi Dzikr Ali A’yan wa Takmilatuha li Abi Abdillah Al-Ghadhairi, Ahmad bin Muhammad Razi, Cetakan Muhammad Ridha Husaini, Qom, 1411, halaman 160 – 167; Kitab Man La Yahdhuruh Al-Faqih, Ibnu Babawaih, Cetakan Hasan Musawi Khursan, Beirut, 1981/1401, jilid 1, halaman 4 – 5; Ma’rifah Al-Hadits wa Tarikh Nasyrih wa Tadwinih wa Tsaqafatih ‘inda Asy-Syiah Al-Imamiyyah, halaman 28 – 33.

[30] Man La Yahdhuruh Al-Faqih, jilid 1, halaman 3 – 5.

[31] Rijal An-Najasyi, halaman 76; Al-Mahasin, Cetakan Mehdi Rajai dalam 2 jilid, 1413.

[32] Lihat: Al-Kafi, jilid 5, halaman 566; Rijal An-Najasyi, halaman 283; Ikhtiyar Ma’rifah Ar-Rijal, halaman 162; Ma’rifah Al-Hadits wa Tarikh Nasyrih wa Tadwinih wa Tsaqafatih ‘inda Asy-Syiah Al-Imamiyyah, halaman 17.

[33] Hayah Al-Imam Al-Hasan Al-Askari, Muhammad Baqir Syarif Quraisyi, Beirut, 1408, halaman 73 – 88; Pozhuheshi dar Tarikh-e Hadis, halaman 343.

[34] Rijal An-Najasyi, halaman 220.

[35] Lihat: Rijal An-Najasyi, halaman 91, 174, 347, 438, 449, 450.

[36] Ibid, halaman 377.

[37] Pozhuheshi dar Tarikh-e Hadis, halaman 350.

[38] Rijal An-Najasyi, halaman 355, 380.

[39] Kamal Ad-Din wa Tamam An-Ni’mah, Ibnu Babawaih, Cetakan Ali Akbar Ghifari, Qom, 1363 HS, jilid 2, halaman 482 – 522.

[40] Kitab Al-Ghaibah, Muhammad bin Hasan Thusi, Cetakan Ibadullah Tehrani dan Ali Ahmad Nashih, Qom, 1411, halaman 41 – 345

[41] Bihar Al-Anwar, jilid 53, halaman 150-190


http://ikmalonline.com/pembukuan-hadis-syiah-1-dari-2/