Rabu, 08 Januari 2020

Wudhu syiah



SYARAT SAH SHALAT.                       WUDHU YANG MENGIKUTI PERINTAH ALLAH DAN RASSULNY AKAN MEMBERI KEAMANAN D DALAM KUBUR.           WUDHU                             Surat Al-Ma'idah Ayat 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
6. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan USAPLAH kepalamu dan (USAPLAH) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); USAPLAH mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.                       Dalam kitab Musnad Ahmad, juz 2 halaman 295, hadits no. 1013 dari Imam ‘Ali as:

كنت أرى أن باطن القدمين أحق بالمسح من ظاهرهما حتى رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهرهما

“Aku mengira bagian bawah kedua kaki lebih berhak untuk diusap ketimbang bagian atasnya, hingga aku melihat Rasulullah Saww MENGUSAP bagian atas keduanya”

Muhaqqiq Syaikh Syu‘aib al-Arnauth menilai di footnote no. 1:

حديث صحح

“Hadits shahih”

Masih di halaman sama, no. 1015 dari Sufyan: 

رأيت عليا توضأ فمسح ظهورهما

“Aku melihat ‘Ali berwudhu MENGUSAP bagian atas dua kakinya”

Muhaqqiq menilai di footnote no. 3:

إسناده صحيح

“Sanadnya shahih”

 Dalam kitab Sunan Ibnu Majah, jilid 1 halaman 376, hadits no. 460:

إنها لا تتم صلاة لأحد حتى يسبغ الوضوء كما أمره الله تعالى، يغسل وجهه ويديه إلى المرفقين ويمسح برأسه ورجليه إلى الكعبين

“Sesungguhnya TIDAK SEMPURNA shalat seseorang hingga ia menyempurnakan wudhu(nya) sebagaimana yang Allah Ta‘ala perintahkan, (yaitu) membasuh wajah dan tangannya hingga kedua siku, dan MENGUSAP kepala dan kakinya hingga kedua mata kaki”

Muhaqqiq Syaikh Basyar ‘Awad Ma‘ruf berkomentar di footnote hadits no. 460:

إسناده صحيح

“Sanadnya shahih”
 hadits riwayat Ibnu Majah itu dishahihkan juga idola Salafi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, juz 1 halaman 208, hadits no. 223

Dalam kitab Sunan ad-Darimi, juz 2 halaman 839-840, hadits no. 1368:

إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَغْسِلُ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَيَمْسَحُ بِرَأْسِهِ، وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Sesungguhnya TIDAK SEMPURNA shalat seorang dari kalian hingga ia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan. Ia membasuh wajah dan kedua tangannya hingga kedua siku, MENGUSAP kepala dan kedua kakinya hingga kedua mata kaki...”

Syaikh Husain Asad ad-Darani di footnote no. 2 menilai:

إسناده صحيح

“Sanadnya shahih”   Surat Al-An'am Ayat 116

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

SEMENIT BERSAMA BAGINDA NABI SAW


Jumlah kata: 114 kata
Waktu membaca: satu menit

By Enovita Miftah
Satu hari, Baginda Nabi Saw melihat setan dalam keadaan sangat lemah. Baginda Nabi Saw bertanya: “Mengapa engkau dalam keadaan seperti ini?”

Setan menjawab, “Bagaimana tidak Ya Rasulallah, umatmu telah melelahkan aku. Mereka telah membuat aku menderita.”

“Apa yang dilakukan umatku terhadapmu?”

“Ya Rasulallah, umatmu punya enam kebiasaan. Aku tidak kuat dan tidak sanggup melihatnya."

Pertama, setiap kali berjumpa, mereka saling mengucapkan salam.

Kedua, setiap berjabat tangan mereka saling memaafkan.

Ketiga, setiap merencanakan sesuatu senantiasa mengucap "Insya Allah."

Keempat, setiap kesalahan mereka memohon ampun,  "Astaghfirullah."

Kelima, l setiap kali namamu disebutkan mereka menyampaikan salam dan shalawat. "Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad."

Dan keenam, setiap kali mereka mengawali sesuatu, mereka selalu berkata: "Bismillahirrahmanirrahim."

(Keutamaan dan Berkah Shalawat, halaman 33)

#alwayssayshalawat🌹
#UsMif@TPW

Sabtu, 04 Januari 2020

Ahlul bait yang disucikan dan yang tidak disucikan


Menetapkan satu ketetapan hukum tidak boleh mengandung kemusykilan (kemungkinan( yang lain, misalnya seseorang yang dituduh berzina lalu dirajam sampai mati maka keputusan itu harus benar benar dipastikan memang dia melakukan zina, jika tidak maka akan menciptakan kedzaliman yang lain, membunuh orang yang justru tidak berzina. Karena itulah seseorang yang menuduh orang lain berzina wajib mendatangkan 2 orang saksi laki laki atau 4 orang wanita yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri terjadinya perzinahan tersebut yaitu melihat masuknya MR P ke dalam MR V. Itu ketetapan syar'inya jika tidak maka akan memunculkan kemungkinan yang lain. Maka haram dihukum rajam sampai mati

Demikian pula penetapan Allah atas nama Ahlul bait yang tidak memasukkan istri istri nabi kedalam Ahlul bait yang disucikan Allah, karena dapat memunculkan kemusykilan yang lain, sebab istri tidak selamanya menjadi ahlul bait seseorang, ada kalanya dia berpindah keahlulbaitannya, berpindah dari satu Ahlul bait kepada ahlul bait yang lain

Ahlul bait artinya ahli rumah. 

Karena itulah manakala satu wanita menikah dengan lelaki A maka dia menjadi ahlul bait A
Jika si A cerai atau suaminya meninggalkan maka dia dapat menikah dan menjadi ahlul bait orang lain

Karena itulah Allah tidak menetapkan istri kedalam ahlul bait nabi yang disucikan karena dapat menciptakan kemusykilan atau kemungkinan lain. Bisa jadi istri istri tersebut nikah lagi dan menjadi istri pihak lain maka akan menciptakan keluarga suci diluar keluarga nabi, dan ini akan melahirkan kemungkinan yang lain, penyalahgunaan derajat kesucian yang dianugerahkan Allah dalam rangka tujuan duniawi, dan ini haram

Maka ketetapan hukum harus menafikan semua kemungkinan yang paling terkecil sekalipun

Maka istri istri nabi tidak dimaksudkan Allah kedalam Ahlul bait yang disucikan

Kamis, 02 Januari 2020

Jangan sampai anda tersesat

Mengapa sudah memegang Al Qur'an dan telah Islam tapi masih tetap berdoa Ihdinassirathal Mustaqim?

Itu karena sekalipun kamu sudah Islam, dan khatam bolak balik dan hafidz Qur'an serta baca berjilid jilid kitab tafsir tapi masih tetap bisa tersesat, masih bisa kafir

Koq bisa?

Nah ini Buktinya. 

Yakin gak dengan ayat ini?

Satu barisan (Aş-Şaf):6 - Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Dalam ayat ini Allah menyatakan, mengumumkan, mendeklarasikan bahwa hanya satu nama yang mempunyai bukti yang nyata, dia adalah Nabi Muhammad Saw, tiada yang lain, karena bukti yang nyata memang hanya diberikan kepada para rasul rasul-Nya sebagai alat bukti bahwa dia adalah utusan pemberi bukti yaitu Allah SWT.

Besi (Al-Ĥadīd):25 - Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Nah jika semua sudah sepakat bahwa hanya para rasul sajalah yang mempunyai bukti yang nyata, maka bagaimana bisa anda meyakini ada orang lain selain nabi yang mempunyai bukti yang nyata?

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang (BUKAN NABI???) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Bagaimana bisa manusia yang bukan para nabi mempunyai bukti yang nyata? Bukti yang nyata hanya diberikan kepada para rasul, ini koq bisa ada orang selain rasul bisa mempunyai bukti yang nyata?

Inilah bukti jika orang yang bolak balik hafidz Qur'an pun bisa kafir

Berjalan dengan para Rasul ( bag 2)


Pada bagian satu dijelaskan bahwa orang Arab mengalami dua fase, fase pertama adalah fase Islam (belum beriman) lalu kedua adalah fase beriman, butuh 10 tahun hidup bersama nabi/ rasul berulah diakui keimanannya oleh Allah, sekalipun orang Madinah pun diberlakukan hal yang sama. Pada saat nabi sudah di Madinah dan turun ayat ya ayyuhal ladzina amanu tetap yang baru masuk Islam dan belum hidup bersama sama Rasul dalam kurun waktu tertentu tetap dipandang belum beriman oleh Allah

Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):14 - Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Butuh sekian tahun lagi setelah benar benar taat dan patuh pada Allah dan Rasul barulah nanti akan diakui keimanannya

Al hujurat 14 "karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu"

Artinya kalaupun mati dalam kondisi Islam dan belum beriman tapi tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya maka amalnya tidak sia sia karena telah hidup bersama nabi dan berusaha taat padanya

Hal yang sama terjadi pada Bani Israil, butuh 40 tahun hidup di seantero Padang pasir telunta lunta bersama nabi Musa as barulah dipandang sebagai orang beriman dan diizinkan memasuki kota suci-Nya Palestina

Jamuan (Al-Mā'idah):26 - Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu".

Mengapa hal ini terjadi? Sebab orang yang hidup bersama rasul saja masih bisa fasik apalagi yang tidak hidup bersama nabi

Perhatikan ayat Al maidah 

Jamuan (Al-Mā'idah):21 - Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Jamuan (Al-Mā'idah):24 - Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja".

Jamuan (Al-Mā'idah):25 - Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu".

Maka ketika mereka dipandang belum beriman maka diharamkan memasuki kota suci

Jamuan (Al-Mā'idah):26 - Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu

Itu artinya ketika mereka sudah hidup bersama nabi selama 40 tahun barulah dipandang sebagai orang beriman

Lalu bagaimana kah jika Rasul Musa as wafat? Maka mereka bukan lagi hidup bersama sama rasul maka demi hukum ini "bahwa orang yang hidup bersama rasul saja yang dipandang beriman" maka Allah menetapkan 12 rasul pengganti bagi mereka agar mereka tetap dipandang sebagai orang beriman.

Jamuan (Al-Mā'idah):12 - Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Tapi begitu 12 rasul rasul tadi wafat maka mereka dipandang lagi sebagai orang yang bukan beriman, beragama dengan agama musa,  ya, tapi beriman sudah tidak lagi, pada kondisi ini amal mereka tidak hilang sebagaimana dijelaskan dalam Al hujurat 14 selama masih ada rasul rasul yang lain, karena itulah dikirim Daud as, Sulaiman as hingga masa kekosongan rasul rasul.

Maka itulah mereka haram menempati kota suci Palestina sampai mereka hidup kembali bersama sama rasul yang datang kemudian yaitu Isa as, hal ini ditunjukkan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan Romawi pada masa kekosongan rasul rasul sampai datang nabi Isa as sebagai Rasul yang lain.

Demikian pula Islam hari ini jika tidak hidup bersama rasul rasulNya maka dipandang bukan orang beriman, hanya Islam, karena itulah ada yang namanya rasul saksi, yang dimulai dengan Imam Ali as sebagai rasul saksi pertama lalu dilanjutkan dengan rasul rasul yang lain sampai ke imam Mahdi as

Imam Mahdi as adalah Rasul, utusan Allah

Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga DIUTUS padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdullah) . Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Imam Mahdi as diutus oleh Allah yang sebelumnya diislahkan olehNya semalam

Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Diislahkan, artinya dipisahkan dari ummat yang lain, ya imam Mahdi as adalah ummat Muhammad sekaligus rasul saksi, yang diutus oleh Allah dan sebelum memimpin manusia di akhir dunia maka dia diislahkan oleh Allah satu malam

Haji (Al-Ĥaj):47 - Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Sajdah (As-Sajdah):5 - Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Seribu tahun dia diislahkan, di asingkan, di ghaib kan oleh Allah. 

Itu artinya dia telah ada sejak 1000 tabun lalu dan diislahkan oleh Allah ke alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa

Itu artinya setelah kemunculannya lah dan kita hidup bersamanya dalam beberapa tahun itulah baru keimanan kita diakui oleh Allah, saat ini kita baru Islam, karena kita belum hidup secara real bersama rasul. Tapi ketika kita taat padanya lewat petunjuk dan arahan arahannya maka kita tetap dipandang Islam bukan kafir, karena rasul Mahdi as tetap menjalankan tugasnya walau dibalik islahnya lewat wakil wakilnya. Dalam kondisi seperti ini mereka yang benar benar taat dan patuh itulah yang hidup secara real bersama rasul, dan dipandang beriman. Sebaliknya bagi yang lain yang tidak taat maka bukan saja tidak diakui beriman, bahkan bukan lagi Islam.

Itu artinya islam pun memiliki rasul rasul yang lain yang menjadi pengganti Nabi Muhammad Saw, sebab itulah hukum Allah bahwa seseorang harus hidup bersama nabi atau rasul Allah barulah dipandang sebagai orang yang beriman, mereka inilah yang disebut sebagai 12 imam yang Maksum

Di dalam Sahih Bukhari misalnya, termuat hadits yang berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.'” (Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Untuk itulah kaum ahli kitab berdoa agar digolongkan (menjadi Syiah) bersama para saksi

Jamuan (Al-Mā'idah):83 - Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (Rasul saksi Imam Ali as + 11 imaman.).

Berjalan dengan para Rasul ( bag 2)



Pada bagian satu dijelaskan bahwa orang Arab mengalami dua fase, fase pertama adalah fase Islam (belum beriman) lalu kedua adalah fase beriman, butuh 10 tahun hidup bersama nabi/ rasul berulah diakui keimanannya oleh Allah, sekalipun orang Madinah pun diberlakukan hal yang sama. Pada saat nabi sudah di Madinah dan turun ayat ya ayyuhal ladzina amanu tetap yang baru masuk Islam dan belum hidup bersama sama Rasul dalam kurun waktu tertentu tetap dipandang belum beriman oleh Allah

Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):14 - Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Butuh sekian tahun lagi setelah benar benar taat dan patuh pada Allah dan Rasul barulah nanti akan diakui keimanannya

Al hujurat 14 "karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu"

Artinya kalaupun mati dalam kondisi Islam dan belum beriman tapi tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya maka amalnya tidak sia sia karena telah hidup bersama nabi dan berusaha taat padanya

Hal yang sama terjadi pada Bani Israil, butuh 40 tahun hidup di seantero Padang pasir telunta lunta bersama nabi Musa as barulah dipandang sebagai orang beriman dan diizinkan memasuki kota suci-Nya Palestina

Jamuan (Al-Mā'idah):26 - Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu".

Mengapa hal ini terjadi? Sebab orang yang hidup bersama rasul saja masih bisa fasik apalagi yang tidak hidup bersama nabi

Perhatikan ayat Al maidah 

Jamuan (Al-Mā'idah):21 - Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Jamuan (Al-Mā'idah):24 - Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja".

Jamuan (Al-Mā'idah):25 - Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu".

Maka ketika mereka dipandang belum beriman maka diharamkan memasuki kota suci

Jamuan (Al-Mā'idah):26 - Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu

Itu artinya ketika mereka sudah hidup bersama nabi selama 40 tahun barulah dipandang sebagai orang beriman

Lalu bagaimana kah jika Rasul Musa as wafat? Maka mereka bukan lagi hidup bersama sama rasul maka demi hukum ini "bahwa orang yang hidup bersama rasul saja yang dipandang beriman" maka Allah menetapkan 12 rasul pengganti bagi mereka agar mereka tetap dipandang sebagai orang beriman.

Tapi begitu 12 rasul rasul tadi wafat maka mereka dipandang lagi sebagai orang yang bukan beriman, Islam  ya, tapi beriman sudah tidak lagi, pada kondisi ini amal mereka tidak hilang sebagaimana dijelaskan dalam Al hujurat 14 diatas

Maka itulah mereka haram menempati kota suci Palestina sampai mereka hidup kembali bersama sama rasul yang datang kemudian yaitu Isa as, hal ini ditunjukkan dengan jatuhnya Yerusalem ke tanhan Romawi pada masa kekosongan rasul rasul sampai datang nabi Isa as. Rasul yang lain

Demikian pula Islam hari ini jika tidak hidup bersama rasul rasulNya maka dipandang bukan orang beriman, hanya Islam, karena itulah ada yang namanya rasul saksi, yang dimulai dengan Imam Ali as sebagai rasul saksi pertama lalu dilanjutkan dengan rasul rasul yang lain sampai ke imam Mahdi as

Imam Mahdi as adalah Rasul, utusan Allah

Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga DIUTUS padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdullah) . Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Imam Mahdi as diutus oleh Allah yang sebelumnya diislahkan olehNya semalam

Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Diislahkan, artinya dipisahkan dari ummat yang lain, ya imam Mahdi as adalah ummat Muhammad sekaligus rasul saksi, yang diutus oleh Allah dan sebelum memimpin manusia di akhir dunia maka dia diislahkan oleh Allah satu malam

Haji (Al-Ĥaj):47 - Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Sajdah (As-Sajdah):5 - Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Seribu tahun dia diislahkan, di asingkan, di ghaib kan oleh Allah. 

Itu artinya dia telah ada sejak 1000 tabun lalu dan diislahkan oleh Allah ke alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa

Itu artinya setelah kemunculannya lah dan kita hidup bersamanya itulah baru keimanan kita diakui oleh Allah, saat ini kita baru Islam, karena kita belum hidup secara real bersama rasul. Tapi ketika kita taat padanya lewat petunjuk dan arahan arahannya maka kita tetap dipandang Islam bukan kafir, karena rasul Mahdi as tetap menjalankan tugasnya walau dibalik islahnya lewat wakil wakilnya. Dalam kondisi seperti ini mereka yang benar benar taat dan patuh itulah yang hidup secara real bersama rasul, dan dipandang beriman. Sebaliknya bagi yang lain yang tidak taat maka bukan saja tidak diakui beriman, bahkan bukan lagi Islam.

Itu artinya islam pun memiliki rasul rasul yang lain yang menjadi pengganti Nabi Muhammad Saw, sebab itulah hukum Allah bahwa seseorang harus hidup bersama nabi atau rasul Allah barulah dipandang sebagai orang yang beriman, mereka inilah yang disebut sebagai 12 imam yang Maksum

Di dalam Sahih Bukhari misalnya, termuat hadits yang berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku 12 orang amir/imam‘, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakan kepada ayah saya, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ayah saya menjawab, ‘Semuanya dari bangsa Qureisy.'” (Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81)

Berjalan dengan para Rasul ( bagian 1)


Taukah mengapa selama 10 tahun ummat Islam belum diakui keimanannya oleh Allah pada masa sebelum hijrah? Darimana bisa ketahuan keimanan mereka belum diakui oleh Allah? Itu ditunjukkan dengan belum adanya ayat yang turun berbunyi ya ayyuhal ladzina amanu atau wahai orang orang yang beriman, masih ya ayyuhannas, wahai manusia. Ayat ayat atau surat surat yang turun pada peristiwa ini dikenal dengan istilah surat  Makkiyah.

Nanti setelah hijrah menuju Madinah barulah turun ayat yang berbunyi ya ayyuhal ladzina amanu, yang artinya keimamanan ummat Islam telah diakui oleh Allah

Sebagaimana ditunjukkan dengan ayat di bawah ini, ketika datang orang Arab Badui mengaku beriman kepada nabi saat tinggal di Madinah, maka Allah menyatakan dia belum beriman, mengapa demikian? Itu karena dia belum berjalan bersama Rasul dalam waktu tertentu

Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):14 - Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Itu artinya sebelum itu mereka di Makkah  dipandang bukan sebagai orang yang beriman

Baru sekedar Islam, belum beriman

Butuh berapa tahun? 10 tahun hidup dan berjalan bersama nabi barulah keimanan mereka diakui oleh Allah 

Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):14 -....karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu

Itu artinya perlu berjalan bersama Rasul Allah dalam sekian waktu barulah seseorang dipandang sebagai orang yang beriman, jika tidak maka dia baru Islam

Sama halnya dengan Bani Israil, butuh sekian tahun, bahkan 40 tahun barulah Allah memandang mereka sebagai orang beriman dengan mengizinkan mereka memasuki Palestina kota yang dijanjikan

Sehingga jika mereka sudah tidak berjalan bersama Rasul lagi maka mereka tidak lagi dipandang sebagai orang beriman dan wajib keluar dari kota Palestina kota suci.

Untuk itulah Allah menjaga derajat keimanan mereka dengan mengangkat 12 Naqib atau imam yang semuanya ditunjuk sebagai Rasul rasul Allah pengganti Rasul Musa as

Jamuan (Al-Mā'idah):12 - Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Ketika rasul rasul itu wafat maka mereka kembali dipandang bukan seorang beriman sehingga diutus lagi nabi Isa as 

Seperti itulah hukum beriman disisi Allah, harus berjalan bersama Rasul