Rabu, 20 November 2019

Mengapa saya Syiah?



Itu karena saya gak mau sudah sholat siang malam seumur hidup, ruku' sujud tiap hari tapi ujung ujungnya neraka. Lah koq bisa? Ya bisalah dan itu pasti, soalnya sepanjang sejarah umat Islam, kita telah tertipu. 

Barang-barang yang berguna (Al-Mā`ūn):4 - Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

Selama ini yang kita ketahui rasul dalam Islam itu hanya ada seorang rasul saja yaitu Nabi Muhammad Saw, padahal ternyata ada dua rasul yang diutus Allah dalam membawakan agama Islam ke Jazirah Arab, sama kayak ketika Musa as diutus tidak sendirian melainkan bersama Harun as. Demikian pula Nabi Muhammad Saw tidak diutus sendirian melainkan bersama Imam Ali as 

What?!!! Apa?! Waduh sesat ini! SESATTT! 
KAFIRRR INI! gitu kan tanggapan kalian? Ya iyalah karena selama ini kita telah diajarkan pemahaman yang salah. Salahnya dimana? 

Salahnya ada pada dua ayat ini

Pertama pada ayat ini

Golongan-Golongan yang bersekutu (Al-'Aĥzāb):40 - Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sehingga kita langsung menetapkan bahwa tidak ada nabi lagi setelah nabi Muhammad Saw sehingga mustahil ada nabi setelah nabi Muhammad Saw, ingat dan catat, SETELAH ya, ayat menyatakan setelah, bukan yang lain.

Maka bagaimana jika rasul itu bukan ada setelah Nabi Muhammad Saw melainkan beserta Nabi Muhammad Saw, diutus bersama nabi bukan setelahnya, ini jelas tidak melanggar ayat diatas kerena tidak datang setelah nabi melainkan beserta Nabi Muhammad Saw.

Kesalahan kedua pada ayat ini

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Pada ayat ini Nabi Muhammad Saw ditempatkan pada posisi saksi. Ayat ini berbicara dengan kata ganti orang, tidak secara langsung menyebutkan nama,. Sehingga bisa diartikan siapa saja, resikonya bisa salah dalam mengartikan kata ganti tersebut

Kata ganti yang dimaksud itu adalah, pertama
"Orang yang mempunyai bukti yang nyata" ini siapa orangnya? Harus jelas dan diketahui siapa dia
Kedua adalah "saksi dari Allah" saksi disini tidak jelas siapa dia, yang ielas hanya satu, dia adalah utusan Allah yang diutus tuk menjadi saksi, lalu dia siapa? 

Karena merujuk pada ayat al Ahsab ayat 40 diatas bahwa tidak ada lagi nabi yang lain selain nabi Muhammad Saw maka ummat sepakat menempatkan Nabi Muhammad Saw di posisi saksi dalam ayat diatas

Nah karena Nabi Muhammad Saw sudah ditempatkan pada posisi saksi maka tinggal satu posisi yang belum terisi yaitu siapa orang yang mempunyai bukti yang nyata tersebut.

Maka karena tidak memakai akal yang jernih dan analisa yang super cerdas, maka dengan ceroboh dan semena mena menempatkan ummat sebagai orang yang mempunyai bukti yang nyata, sekalipun melawan surat as saf ayat 6  dan melawan rentetan ayat diatasnya sendiri yaitu ayat Hud 12 s/d Ayat 16

Mari kita lihat ayat 12 s/d ayat 16

Nabi Hud:12 - Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.

Nabi Hud:13 - Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

Nabi Hud:14 - Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?

Nabi Hud:15 - Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Nabi Hud:16 - Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.

Dalam rentetan ayat ini terlihat jelas bahwa Allah SWT sedang mengisahkan kisah awal dakwah  Nabi Saw di Makkah, dimana Makkah masih diselimuti orang orang kafir Quraisy dan tidak pernah selama masa dakwah Makkah  turun ayat yang berbunyi ya ayyuhal ladzina amanu melainkan baru berbunyi ya ayyuhannas, wahai manusia. Dan dalam rentetan ayat tersebut tidak menyebutkan adanya orang orang beriman melainkan mereka masih dalam keadaan kafir dan membantah nabi dengan mengatakan bukti yang nyata yaitu Al Qur'an yang dibawakan oleh nabi semata mata adalah buatan nabi sendiri

Itu artinya belum ada orang orang beriman, ini artinya kisah ini baru awal awal yang paling awal dari dakwah nabi

Sampai masuk pada ayat Hud 17 masih sama, orang kafir Quraisy juga belum beriman bahkan mereka masih kafir beserta sekutu sekutunya, hal ini bisa dilihat dari penggalan ayat Hud 17

Nabi Hud:17 -  Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Nah jika mereka masih kafir lalu orang beriman yang dimasukkan dalam penggalan ayat diatasnya datangnya darimana?

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang (KAUM MUKMIN) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. 

Apakah kaum mukmin yang dimaksud adalah kaum mukmin non Arab? Ini tidak mungkin, lalu siapa? Sedang orang kafir Quraisy menurut ayat yang sama masih kafir. 

Itu artinya ada kesalahan fatal dalam menafsirkan ayat ini sehingga menghilangkan satu rasul yang seharusnya ada, yaitu rasul saksi.

Mari kita coba benarkan kesalahan itu.

Karena dari ayat Hud 12 s/d 16 hanya ada nabi dan kaum Quraisy yang kafir maka orang yang dimaksud sebagai "orang yang mempunyai bukti yang nyata" itu tidak mungkin ada yang lain selain Nabi Muhammad Saw karena memang hanya dialah yang membawa Al Qur'an sebagai bukti yang nyata dari Allah kepada kaum Quraisy, apalagi namanya dengan jelas disebut dalam as saf ayat 6

Satu barisan (Aş-Şaf):6 - Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Sehingga kita harus membenahi kesalahan penafsiran atas Hud 17 tersebut, dengan menempatkan Nabi Muhammad Saw pada posisi sebagai orang yang mempunyai bukti yang nyata, dan kita hapus kalimat yang ada tanda kurungnya karena itu juga adalah satu kesalahan yang lain

Mari kita sama sama letakkan, semoga memberikan informasi yang semakin menarik dan jelas


Nabi Hud:17 - Apakah orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Nah karena Nabi telah ditempatkan pada posisi yang benar maka posisinya yang semula salah yaitu sebagai saksi menjadi kosong padahal saksi tersebut juga adalah seorang rasul, Maka itu artinya ada dua rasul yang diutus kepada kaum Quraisy, ini bisa dilihat dalam perkataan kaum Quraisy itu sendiri dengan mengatakan mengapa tidak datang bersamanya seorang malaikat? Itu artinya nabi Muhammad Saw datang bersama seseorang tapi bukan malaikat

Nabi Hud:12 - Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia SEORANG MALAIKAT?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.

Nah orang inilah yang sebagai saksi dari Allah tetapi dia bukan malaikat, sehingga kaum Quraisy menertawakan Nabi Muhammad Saw yang bukannya datang bersama malaikat tapi justru datang bersama ponakannya sendiri, siapa lagi jika bukan Imam Ali as?

Wajar ditertawakan karena nabi Muhammad Saw mengklaim diri sebagai utusan Allah tapi koq datang bukan bersama malaikat tapi hanya datang bersama ponakannya sendiri? 

Inilah makna ayat Hud 12 diatas, yang artinya saksi yang dimaksud dalam Hud 17 adalah Imam Ali as

Wayatluhu syahidun minHu, dan dia diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah, ya imam Ali as adalah saksi dari Allah

Nah saksi saksi ini selalu ada dalam setiap kenabian makanya Allah menyatakan sama seperti ketika Musa diutus

Waming koblihi kitabu Musa, IMAMAN warahmatan

Nabi Hud:17 - dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab MUSA, IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Nah Nabi Musa as dan Nabi Muhammad Saw sebagai pemilik bukti yang nyata dan Nabi Harun as dan imam Ali as adalah saksi dari Allah

Nah saksi saksi ini yang akan dipanggil untuk memberikan kesaksian dalam persidangan kelak diakhirat

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para SAKSI akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Sehingga jika kita rangkai semuanya maka akan menjadi demikian

Nabi Hud:17 - Apakah orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah (sama seperti orang yang tidak mempunyai bukti yang nyata dan tidak pula diikuti oleh seorang saksi dari Allah?, Maka tidak sama) 
dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa, IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Itu artinya Imam Ali as adalah seorang rasul juga yang ditugaskan sebagai saksi yang mengikuti Nabi Muhammad Saw

Jika kita menolaknya maka konsekuensinya adalah kafir

Nah karena tidak mau kafir itulah maka saya menjadi Syiah Ali as atau pendukung  atau  pengikut Imam Ali as, menjadi pengikut Imam Ali as jelas juga pengikut Nabi Muhammad Saw.

Sudah jelas bukan mengapa saya Syiah? 

Itu karena selain Syiah bisa dipastikan dia telah kafir, mengkufuri adanya rasul saksi dalam Hud 17, maka semua amal ibadah menjadi sia sia semata

Senin, 18 November 2019

MENCARI SAHABAT MENURUT IMAM ALI AS


            

"Hati bertemu dengan hati, semua mencari sumber kecocokan. Siapa saja yang hendak mencari sahabat tanpa kesalahan, niscaya ia akan hidup sebatang kara. Dan barang siapa yang ingin mencari pendamping hidup sempurna tanpa kekurangan, niscaya ia akan hidup membujang. Dan barang siapa yang berusaha mencari saudara tanpa problema, niscaya ia akan hidup dalam pencarian yang tiada akhirnya. Barang siapa yang hendak mencari kerabat yg ideal dan sempurna, niscaya ia akan lalui seluruh hidupnya dalam permusuhan."

"Maka, bersabarlah menanggung perihnya kesalahan orang lain, agar kita dapat mengembalikan keseimbangan dalam hidup ini. Camkanlah... Jika engkau ingin hidup bahagia, jangan menafsirkan segala sesuatu, jangan pula terlalu kritis pada segala hal, serta jangan terlalu jeli meneliti segala sesuatu. Sebab jika seseorang jeli meneliti asal usul berlian, ia akan mendapati ternyata berlian itu bermula dari bongkahan batu hitam!"

* Sayyidina Imam Ali bin Abi Thalib as karamallahu wajhah*

Minggu, 17 November 2019

Ummat islam itu mustahil mempunyai bukti yang nyata.



Dalam Hud 17, yang menjadi kesalahan fatal dalam memahami ayat itu terletak pada kalimat

Afaman Kana ala bayyinatin, apakah sama orang yang mempunyai bukti yang nyata

Wayatluhu syahidun minHu, dan dia diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah (rasul saksi)

Dalam mengartikan orang yang mempunyai bukti yang nyata, para mufassir mengartikan bahwa orang tersebut adalah ummat Islam, dan saksi yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad Saw

Sehingga didapatkan terjemahannya sebagai berikut

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Ini adalah kesalahan fatal, sebab selain bertentangan dengan as saf ayat 6 yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai bukti yang nyata itu adalah nabi Muhammad Saw juga  karena di akhir ayat ada perkataan, " Dan barangsiapa diantara mereka (orang orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang KAFIR kepada Al Qur'an maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya. Artinya bagi siapa yang kafir kepada Al Qur'an atau yang menolak Al Qur'an maka tempatnya di neraka, itu artinya pula barang siapa yang menolak isi Hud 17 dan apa yang dijelaskan didalamnya maka ia sama saja kafir kepada Al Qur'an, karena Hud 17 dan apa apa yang dijelaskan didalamnya juga adalah bagian dari Al Qur'an.

Lalu apa yang ada didalam Hud 17 itu? Yaitu satu keterangan bahwa ada orang yang mempunyai bukti yang nyata dan dia diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah atau rasul saksi, barang siapa yang menolaknya maka sama saja menolak Al Qur'an atau kafir terhadap Al Qur'an dan neraka tempat kembalinya

Lalu siapa orang yang mempunyai bukti yang nyata itu yang tidak boleh ditolak keberadaannya karena sama saja menolak isi Hud 17 dan itu artinya sama saja telah menolak Al Qur'an? 

Jika orang yang dimaksud sebagai orang yang mempunyai bukti yang nyata itu adalah ummat Islam atau orang Islam, maka haram bagi siapa pun menolaknya kecuali dia pasti akan dianggap menolak keterangan Hud 17 dan itu artinya sama saja telah menolak Al Qur'an, maka tempat kembalinya adalah neraka

Maka ini mustahil karena akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia, sebab hukumnya menjadi wajib bagi siapapun harus mengakui orang islam sebagai pemilik bukti yang nyata, itu artinya pasti dia dalam kebenaran tidak mungkin dalam kesesatan. Sebab orang sesat pasti tidak memiliki bukti yang nyata dari Allah. Maka orang itu jika menyeru harus didengar jika tidak maka sama saja telah menolaknya dan sama saja telah menolak isi Al Qur'an

Dan jika orang itu mengajak pada satu jalan harus didengarkan dan diikuti karena jika tidak maka sama saja telah menolak isi Al Qur'an

Kemudian jika orang itu mengatur, membimbing maka harus ditaati jika tidak maka itu sama saja telah menolak isi Al Qur'an

Maka bagaimana jika orang itu ternyata kafir, dzalim, aniaya? Hanya karena dia orang yang sudah mengaku Islam lantas wajib diikuti? Maka ini adalah kesalahan yang sangat fatal

Maka mustahil diikuti, ditaati, dan dipatuhi kecuali dia adalah orang yang maksum, suci dari semua kemungkinan kesalahan, kedzaliman dan aniaya. Maka mustahil dia munusia biasa melainkan pasti orang itu adalah Rasul. 

Nah inilah yang dimaksud dalam as saf ayat 6 bahwa orang yang mempunyai bukti yang nyata itu adalah Nabi Muhammad Saw, bukan ummat Islam secara umum!

Satu barisan (Aş-Şaf):6 - Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Lalu siapakah rasul saksi yang mengikutinya? Ya tiada lain adalah Imam Ali as karena tidak mungkin Jibril as sebab ada satu konsekuensi, yaitu dia harus pengikut, sebab ada kata "dan diikuti" seorang saksi dari Allah

Dan diikuti artinya dia adalah pengikut Nabi Muhammad Saw, ya siapa lagi selain Imam Ali as yang sejak kecil dan paling pertama menjadi pengikut Nabi Muhammad Saw?

Menolaknya sama saja itu artinya telah KAFIR kepada isi Al Qur'an dan nerakalah tempat kembalinya. Sudah siapkah anda? Maka Islam hakiki itu adalah Islam yang mengakui nabi Muhammad Saw sebagai pemilik atau yang. Mempunyai bukti yang nyata dan Imam Ali as sebagai rasul saksi yang mengikutinya, selainnya adalah kafir terhadap Al Qur'an.

Sabtu, 16 November 2019

Ummat Islam mustahil sebagai orang yang mempunyai bukti yang nyata

Banyak yang berkata, "jangan seenaknya kafir kafirin orang dong", lah gimana kalo emang seperti itu bunyi ayatnya, coba perhatikan yang saya beri tanda huruf kapital

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa, imaman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang KAFIR kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan MANUSIA TIDAK BERIMAN.

TIDAK BERIMAN ya artinya Kafir, karena yang disebut "tidak beriman" sudah Allah sebutkan salah satu contohnya yaitu "Dan barangsiapa diantara mereka (orang orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang KAFIR kepada Al Qur'an"

Sebutan tidak beriman mengacu pada orang yang kafir pada Al Qur'an. Jadi ayat ini jelas menyatakan yang menolak Al Qur'an atau tidak beriman padanya adalah KAFIR, tidak ada cerita lain selainnya. 

Nah itu artinya seseorang termasuk kafir jika menolak realita atau kenyataan Hud 17 itu sendiri karena ayat Hud 17 merupakan bagian dari Al Qur'an itu sendiri. Itu artinya juga termasuk kafir pula bagi mereka yang menolak hal hal yang disampaikan atau dibicarakan didalam Hud 17 itu sendiri.

Apa yang dibicarakan dalam Hud 17?  Yaitu bahwa ada orang yang mempunyai bukti yang nyata dan orang itu diikuti pula seorang saksi dari Allah atau saksi utusan Allah (Rasul), menolak hal ini adalah kafir karena sama saja menolak Hud 17 dan sama saja menolak Al Qur'an, maka dia adalah orang yang tidak beriman.

Itu artinya jika orang yang dimaksud sebagai orang yang mempunyai bukti yang nyata adalah ummat Islam, maka menolaknya adalah kafir, artinya menolak ummat islam sebagai pemilik bukti yang nyata akan disebut kafir, karena dialah yang dimaksud sebagai orang yang mempunyai bukti yang nyata dan menolak kenyataan ini adalah kafir, karena hukumnya menolak pernyataan Allah dalam Al Qur'an adalah? Ya kafir.

Itu konsekuensinya. Maka jika ada orang Islam yang sudah mempunyai bukti yang nyata datang kepada seseorang yang lain kemudian dia ditolak maka hukumnya kafir. Ini konsekuensinya karena dia sudah mempunyai bukti yang nyata maka, menolaknya sama saja menolak penyataan Allah.

Itu artinya jika umat Islam datang kepada manusia yang lain lalu dia berkata, "apakah kamu belum membaca Hud 17 bahwa kamilah yang mempunyai bukti yang nyata, maka terimalah kami, ikuti kemaun kami, taat dan patuh, jika tidak maka kamu telah kafir karena menolak realita bahwa kami memiliki bukti yang nyata dan ini sudah diumumkan Allah swt. 

Bagaimana jika orang itu ternyata dzalim, aniaya, pendusta lagi khianat apakah tetap harus diikuti dan ditaati hanya karena dia mempunyai bukti yang nyata, dan jika ditolak maka sama saja menolak klaim Tuhan dan akibatnya bisa kafir?

Tentu tidak mungkin, karena itu orang yang dimaksud dalam Hud 17 sebagai orang yang mempunyai bukti tentulah harus para nabi, sebab dia tidak mungkin dzalim kepada manusia.

Kamis, 14 November 2019

istri nabi (15 November 2018)

Istri nabi Nuh dan Luth di neraka, apakah para nabi itu salah memilih istri?

lihat istri itu dari konteks al qur'an, hunna libasu lakum, wa antum liasu lahuna, kamu pakaian bagi mereka (istri) dan mereka adalah pakaian bagi kalian, al baqarah 187

Maka sebagai pakaian, ada kalanya kita harus memakai pakaian yang bisa diterima ditempat dimana kita berada, sekalipun pakaian itu tidak sesuai dengan standar ideal kita sendiri, hal itu bisa dilakukan sebagai suatu siasat dalam membangun ikatan sosial dan politik. Maka demikian lah para nabi menikahi wanita wanita yang sebenarnya mereka tau kekafiran mereka, tapi itu harus dilakukan agar bisa diterima dalam komunitas dimana mereka berdakwa

Demikian pula istri istri nabi Muhammad saw yang bernama Aisyah dan Hafsah dianggap sesat oleh syiah 12 rasul saksi, setelah wafatnya nabi, karena menolak mengakui hak dan kedaulatan Allah yang harusnya hanya berada dipundak para rasul salah satunya Imam Ali as

Apakah Nabi Salah memilih istri istri? Tidak, melainkan nabi sudah tau akan kelakuan mereka kelak, dan nabi menikahi mereka demi tujuan ikatan sosial dan politik terhadap kaum Quraiz karena keduanya adalah putri dari dua tokoh kaum quraiz yang disegani

Jadi istri kafir bagi seorang nabi tidak menjadi aib bagi mereka, karena tugas mereka ya membentuk sosial dan politik islam, dan istri adalah salah satu jalan dalam menempuh semua jalan demi tercapainya tujuan

Selasa, 12 November 2019

Menyembunyikan kesaksian dari Allah

Ribut soal cadar dan celana cingkrang, alasannya karena Sunnah. 

Itu soal ibadah atau Amaliah namanya

Dan yang namanya Amaliah ibadah setinggi apapun dan sedalam apapun tetap tertolak selama dirimu masih kafir. 

Ya saya tegas dan gak nutup nutupin, karena haram menutup nutupi kebenaran jika mengetahuinya

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَاۤ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَا لْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّا سِ فِى الْكِتٰبِ ۙ اُولٰٓئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَ ۙ 
innallaziina yaktumuuna maaa anzalnaa minal-bayyinaati wal-hudaa mim ba'di maa bayyannaahu lin-naasi fil-kitaabi ulaaa`ika yal'anuhumullohu wa yal'anuhumul-laa'inuun

"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 159)

Makanya dengan jelas dan terang saya katakan kalian masih KAFIR saudara saudariku jika masih tidak mau menerima kenyataan bahwa Imam Ali as adalah rasul saksi yang diturunkan tuk mengikuti nabi Muhammad Saw, atau disebut juga syahidatan minallah, kesaksian dari Allah

Allah SWT berfirman:

اَمْ تَقُوْلُوْنَ اِنَّ اِبْرٰهٖمَ وَاِ سْمٰعِيْلَ وَاِ سْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَا لْاَ سْبَا طَ كَا نُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ قُلْ ءَاَنْـتُمْ اَعْلَمُ اَمِ اللّٰهُ ۗ وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَا دَةً عِنْدَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَا فِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
am taquuluuna inna ibroohiima wa ismaa'iila wa is-haaqo wa ya'quuba wal-asbaatho kaanuu huudan au nashooroo, qul a antum a'lamu amillaah, wa man azhlamu mim mang katama syahaadatan 'indahuu minalloh, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ta'maluun

"Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, Kamukah yang lebih tahu atau Allah? Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan KESAKSIAN dari Allah yang ada padanya? Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 140)

Kesaksian dari Allah adalah orang yang ditugaskan menjadi saksi dari Allah yang diturunkan bersama para Nabi syariat atau Rasul pembawa syariat

Allah SWT berfirman:

اَفَمَنْ كَا نَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ وَيَتْلُوْهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِنْ قَبْلِهٖ كِتٰبُ مُوْسٰۤى اِمَا مًا وَّرَحْمَةً ۗ اُولٰٓئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ مِنَ الْاَ حْزَا بِ فَا لنَّا رُ مَوْعِدُهٗ ۚ فَلَا تَكُ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْهُ اِنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يُؤْمِنُوْنَ
a fa mang kaana 'alaa bayyinatim mir robbihii wa yatluuhu syaahidum min-hu wa ming qoblihii kitaabu muusaaa imaamaw wa rohmah, ulaaa`ika yu`minuuna bih, wa may yakfur bihii minal-ahzaabi fan-naaru mau'iduhuu fa laa taku fii miryatim min-hu innahul-haqqu mir robbika wa laakinna aksaron-naasi laa yu`minuun

"Maka apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang (Rasulullah Saw) yang sudah mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti oleh saksi dari-Nya (Imam Ali as) dan sebelumnya sudah ada pula Kitab Musa IMAMAN dan rahmat? Mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an). Barang siapa mengingkarinya (Al-Qur'an) di antara kelompok-kelompok (orang Quraisy), maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah engkau ragu terhadap Al-Qur'an. Sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman."
(QS. Hud 11: Ayat 17)

Sanggahan:
Alah mas bro, itu kan sudah dijelaskan bahwa nabi juga bisa jadi saksi misalnya pada ayat ini

Allah SWT berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَاۤ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِ ۗ وَاِ نْ كَا نَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗ وَمَا كَا نَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَا نَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِا لنَّا سِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
wa kazaalika ja'alnaakum ummataw wasathol litakuunuu syuhadaaa`a 'alan-naasi wa yakuunar-rosuulu 'alaikum syahiidaa, wa maa ja'alnal-qiblatallatii kunta 'alaihaaa illaa lina'lama may yattabi'ur-rosuula mim may yangqolibu 'alaa 'aqibaiih, wa ing kaanat lakabiirotan illaa 'alallaziina hadalloh, wa maa kaanallohu liyudhii'a iimaanakum, innalloha bin-naasi laro`uufur rohiim

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Jawaban: 
Iya Nabi Muhammad Saw pun bisa jadi saksi tapi bukan dalam konteks bukti yang nyata, karena dalam konteks bukti yang nyata telah final dan jelas, hanya Nabi Muhammad Saw lah yang berperan sebagai pembawa bukti yang nyata (As saf 6)

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَمُبَشِّرًا بِۢرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗۤ اَحْمَدُ ۗ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ قَا لُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
wa iz qoola 'iisabnu maryama yaa baniii isrooo`iila innii rosuulullohi ilaikum mushoddiqol limaa baina yadayya minat-taurooti wa mubasysyirom birosuuliy ya`tii mim ba'dismuhuuu ahmad, fa lammaa jaaa`ahum bil-bayyinaati qooluu haazaa sihrum mubiin

"Dan (ingatlah) ketika 'Isa putra Maryam berkata, Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, Ini adalah sihir yang nyata."
(QS. As-Saff 61: Ayat 6)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Sedang Nabi Muhammad Saw menjadi saksi itu dalam konteks yang berbeda yaitu dalam konteks perbuatan manusia bukan dalam konteks bukti yang nyata, sebab beliau dalam konteks bukti yang nyata itu berperan sebagai pembawa, bukan saksi, sedangkan saksi dalam konteks bukti yang nyata pada ayat Hud 17 adalah juga sebagai pengikut, atau ummat ini ditunjukkan dengan kalimat 'dan diikuti' pula seorang saksi dari Allah, jadi rasul saksi adalah makmum, pengikut Rasul Pembawa bukti, jadi tidak mungkin Nabi Muhamad Saw maupun Jibril as karena keduanya bukan makmum atau ummat

Jadi saudara saudari ku, kalian masih kafir, jadi tegakkan dulu keimanan mu barulah beralih kepada bab Amaliah ibadah, jika tidak maka sampai kapanpun dan sampai di manapun, kalian masih tetap kafir

Sabtu, 09 November 2019

Bab Adab


Imam Ali as berkata "Adab merupakan kesempurnaan seseorang" (Ghurar al Hikam, hadis 998)

Diriwayatkan dari Imam Ali as, "Wahai mukmin, sesungguhnya ilmu dan adab merupakan nilai dirimu. Oleh karenanya, hendaknya engkau bersungguh sungguh mempelajari keduanya. Apapun yang menambah ilmu dan adabmu, ia akan menambah pula harga dirimu" (Misykat al-Anwar, hadis 135)

Rasulullah saw bersabda, "Adab yang baik merupakan hiasan Akal" (Bihar al-Anwar,Jilid 77, hal.131, hadis 41)

Imam Ali as berkata, "Segala sesuatu membutuhkan akal, sedangkan akal membutuhkan adab" (Ghurar al-Hikam, hadis 6911)

Diriwayatkan dari Imam Ali as, "Duduklah bersama ulama, niscaya ilmumu bertambah, adabmu menjadi lebih baik, dan jiwamu mejadi suci" (Ghurar al-Hikam, hadis 4786)

Imam Shadiq as berkata,"Ayahku mendidikku dengan tiga hal, yaitu dia mengatakan kepadaku, "Hai anakku, barangsiapa berteman dengan teman yang buruk, niscaya dia tidak selamat, barangsiapa tidak mengendalikan perkataannya, niscaya dia akan menyesal, dan barangsiapa memasuki tempat tempat yang buruk niscaya dia akan dituduh" (Tuhaf al-'Uqul, hadis 376)

Mereka yang mengaku pecinta ahlulbait nabi tp tidak memiliki adab yang baik dalam bertutur kata, bersikap dan berbuat maka boleh jadi dia bukan jadi hiasan bagi ahlulbait melainkan menjadi aib bagi ahlulbait itu sendiri. 

Ini cambuk bagi diri sendiri :'(