Jumat, 20 Desember 2019

Dalil 12 imam



Waming koblihi kitabu Musa IMAMAN (Hud 17)

Dan sebelumnnya telah ada kitab Musa Imaman dan Rahmat

Artinya agar kitab Musa bisa menjadi Rahmat maka harus melalui IMAMAN

Nah siapa IMAMAN itu?

Jamuan (Al-Mā'idah):12 - Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Itu artinya Allah memberikan kita informasi bahwa jika kamu mau benar benar kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw menjadi Rahmat ya harus lewat IMAMAN dalam memahaminya, karena setelah nabi tiada nanti maka siapa saja yang memakai Al Qur'an tanpa melalui IMAMAN maka kebalikan dari Rahmat, yaitu penderitaan, kebencian dan kehancuran, ketertinggalan dsb

Makanya Islam sampai hari ini ya seperti itu, bukan menjadi rahmatan Lil alamin malah menjadi lol Alamin atau tolol sealam raya. 

Tapi ya itu, tidak ada paksaan, karena Allah hanya memberikan saran dengan mengambil contoh kitab Musa as, artinya jika mau kitab yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw menjadi Rahmat ya silahkan tempatkan Imaman sebagai penuntunmu dalam menuju Rahmat tersebut



Ada apa dengan Ibnu Katsir?

Ada yang aneh gak ya? 

Ketika kita membaca tafsir Ibnu Katsir ayat Hud 17 kita tiba tiba disajikan keadaan orang mukmin dengan fitrahnya?

Padahal dalam ayat Hud 17 disebutkan kata MAN, dalam kalimat afaMan Kana ala bayyinatin Mirobbihi

Apakah orang yang mempunyai bukti yang nyata. Ini kata man tiba tiba ditafsirkan sebagai orang beriman yang mempunyai fitrah

Padahal Man atau orang dalam ayat ini adalah kata ganti atau dhomir, koq bisa kata ganti ini adalah kata ganti orang beriman? Darimana ceritanya? 

Bukankah dalam kaidah bahasa, yang namanya kata ganti itu selalu merujuk pada kalimat sebelumnya

Misalnya

Budi pergi ke pasar
Dia membeli ikan dan sayur
Ditemani Iwan naik motor

Kata dia adalah dhomir atau kata ganti pelaku. Nah siapa yang dimaksud dengan "dia" disini? Ya pasti merujuk kepada kalimat sebelumnya, yaitu Budi

Ini logika sederhana sekali yang anak SD saya yakin sudah bisa menebak siapa "dia" dalam kalimat diatas, pasti Budi gak mungkin Iwan bukan?

Nah dalam surat Hud 17 itu ada ayat yang berbunyi
"Apakah sama orang yang mempunyai bukti yang dari Tuhannya dan diikuti pula seorang saksi dari Allah"

Orang yang mempunyai bukti yang nyata harus jelas orangnya agar jelas pula siapa saksi yang mengikutinya bukan?

Lucunya Ibnu Katsir tidak melihat ayat sebelumnnya, dia langsung serta Merta mengartikan orang yang mempunyai bukti yang nyata adalah kaum mukmin yang mempunyai fitrah

Padahal jika mau mengikuti aturan bahasa, yang namanya satu kalimat yang berada ditengah pasti punya ujung pangkal.

Ini ayat 17, itu berarti ada ayat 16, 15, 14, 13 dan 12 sampai ayat pertama 

Nah mengapa Ibnu Katsir tidak melihat ayat sebelumnya untuk mengetahui siapa MAN atau orang yang dimaksud dalam Hud 17?

Mengapa saya menyebut dia tidak melihat ayat sebelumnya? Itu karena ayat sebelumnya tidak menyebutkan adanya orang beriman yang dia maksud tersebut. Yang ada hanya orang kafir Quraisy yang didakwahi nabi Muhammad Saw

Lalu dari dasar mana dia bisa mengartikan bahwa orang yang dimaksud dalam kata ganti pelaku itu bukan orang yang disebut dalam kalimat sebelumnya? 

Pasti tidak mungkin dia tidak tau akan hal ini, itu artinya ada kesengajaan membelokkan makna ayat Hud 17 ini. Dan tentu ada alasannya, yaitu ingin menyembunyikan bahwa orang yang mempunyai bukti yang nyata adalah nabi Muhammad Saw sebab jika ketahuan siapa orang yang mempunyai bukti yang nyata maka akan ketahuan siapa saksi yang mengikuti nabi

Ini adalah pembelokan agama yang sangat berbahaya. Akibatnya milyaran umat Islam sejak dia menerbitkan kitab ini semua salah memahami ayat Hud 17 yang sebenarnya sangat jelas karena ada ujung pangkalnya.

Tapi mengapa Ibnu Katsir begitu berani sehingga menyebabkan milyaran manusia tersesat?

Ini jelas penyesatan yang terselubung

Kamis, 19 Desember 2019

Ayo segera menjadi Syiah Ali as atau syahadat anda tertolak


Jamuan (Al-Mā'idah):83 - Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (rasul saksi Imam Ali as + 11 IMAMAN)

Dalam ayat ini ahlul kitab yang telah beriman berdoa

"Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi"

Syarat beriman adalah syahadat dan syarat syahadat orang yang benar benar beriman adalah memohon mereka DICATAT bersama orang orang yang menjadi saksi

Siapa orang orang yang menjadi saksi ini yang mereka ahlul kitab memohon agar dicatat menjadi golongannya? 

Mereka adalah orang yang tercatat dalam Hud 17 dan 18

AfaMan Kana ala bayyinatin Mirobbihi WAYATLUHU syahidun minHu

Apakah orang (nabi Muhammad Saw) yang mempunyai bukti yang nyata dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah
Waming koblihi kitabu Musa IMAMAN warahmatan

Dan sebagaimana sebelumnnya telah ada kitab Musa IMAMAN (imam imam) dan Rahmat

Mengapa ayat ini dikaitkan dengan Al maidah 83? Itu karena bentuk kasusnya sama. Dimana di Hud 12 s/d 17 nabi Saw sedang berdakwah kepada kafir Quraisy dan nabi diikuti atau ditemani seorang rasul saksi, maka dalam kasus Al maidah 83 pun nabi sedang berdakwah maka disini pun beliau ditemani rasul saksi dan ahlul kitab melihatnya  dan memahaminya yang bersama nabi tidak lain adalah rasul saksi, maka mereka memohon DICATAT agar ditempatkan digolongkan bersama para saksi, yaitu imam Ali as dan saksi saksi yang lain

Siapa saksi saksi yang lain itu? Lihat pada Hud 18 dimana para saksi ini akan menolak kesaksian manusia dengan berkata "orang orang inilah yang berbohong atas nama Allah'

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Maka sudah pasti orang orang ini adalah manusia yang Maksum karena menjadi penentu nasib manusia sebab Allah akan memakai kesaksian mereka tuk menghukumi manusia yang lain. 

Siapa mereka? Mereka adalah para IMAMAN yang disebut pada ayat sebelumnnya, waming koblihi kitabu Musa IMAMAN warahmatan

Dan sebelumnnya telah ada kitab Musa, Imam imam dan Rahmat, para imam imam inilah yang akan menjadi saksi saksi yang disebut pada Hud 18, dan pada masa Nabi Musa as mereka disebut dalam ayat ini

Jamuan (Al-Mā'idah):12 - Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Lalu siapakah imam imam pada masa nabi Muhammad Saw. yang pertama adalah Imam Ali as sebagai rasul saksi didalam Hud 17 yang mengikuti nabi Muhammad Saw dalam berdakwah, lalu 11 yang lainnya akan bertugas setelah Nabi Saw wafat dan hadir di setiap zaman, makanya dalam Al maidah  83 ahlul kitab berdoa agar DICATAT bersama mereka, karena pada saat mereka berdoa, 11 Imam belum ada, dan memohon agar DICATAT sebagai golongan mereka kelak di akhirat

Maka jika mau iman kita diakui oleh Allah maka hendaklah kita berdoa yang sama, memohon agar DICATAT bersama para saksi saksi tersebut yang tiada lain adalah IMAMAN, Jika tidak maka kita telah menyalahi kaidah beriman yang diajarkan dalam Al maidah 83 ini yang artinya kelak kita akan disebut sebagai orang yang beriman secara palsu, tidak bersungguh-sungguh

Nabi Hud:18 - Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Sunnatullah



Dahulu ketika Nabi Isa as muncul dan meluruskan kesalahan Bani Israil dalam beragama, orang orang pada kaget, karena merasa selama ini semua baik baik saja tanpa perlu ada yang diluruskan, sejak nenek moyang semua sama saja dan baik baik saja, begitulah prasangka mereka, makanya mereka mati matian menolak seruan nabi Isa as, nah sama kayak kalian saat ini yang merasa semua baik baik saja dalam agama Islam, sejak nenek moyang semua baik baik saja dan serasa gak ada yang salah. Nah itulah prasangka kalian semua

Nabi Yunus (Yūnus):36 - Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Begitu disodorkan surat Hud ayat 17 semua baru terkaget kaget ada rasul saksi dalam ayat itu yang selama ini ditutup tutupi atau tertutupi dengan penafsiran keliru, semua serasa baik baik saja, gak ada yang keliru, padahal ada dua rasul dalam kenabian Muhammad Saw, ada rasul pendamping yang selama ini telah berlaku sebagai sunnatullah kepada semua nabi nabi pembawa syariat dalam berdakwah menyampaikan risalah kepada ummat

Golongan-Golongan yang bersekutu (Al-'Aĥzāb):62 - Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.

Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):137 - Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang mendustakan (rasul-rasul).

Musa as didampingi Harun as
Isa as putra Maryam didampingi Simon as, karena Simon adalah orang pertama dari empat nama yang disebut dalam Injil sebagai pengikut pertama nabi Isa as
Demikian pula Nabi Muhammad Saw didampingi oleh Imam Ali as, karena Imam Ali as adalah pengikut (laki laki) pertama Nabi Muhammad Saw

Semua memiliki saksi saksi, lalu bagaimana bisa nabi Muhammad Saw tidak memiliki saksi saksi sedang Hud 17 dan 18 dengan sangat jelas menyatakan hal itu?

Beriman lah saudara ku, kalian demi Allah masih kafir karena menolak rasul saksi dalam Hud 17 dan kelak kalian akan menjadi orang yang paling menyesal dikemudian hari

Maklumat Raja


Pernah dengar maklumat raja? Misalnya, Raja mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit tahunan ku jika dia laki laki menjadi saudaraku dan pewaris setengah kerajaanku, jika dia perempuan menjadi permaisuri ku dan pewaris setengah kerajaanku

Itu artinya jika ada laki laki yang dapat menyembuhkan penyakit sang raja maka secara otomatis dia terangkat menjadi saudara dan pewaris setengah kerajaan sang Raja dan perdana menteri harus meyakininya mempercayai posisinya dan memberikan haknya

Demikian pula maklumat perjanjian Allah dengan para Nabi, barang siapa yang nanti datang pada kalian setelah kalian menerima kitab dan hikmah lalu dia membenarkan apa yang ada padamu maka dialah sang Rasul saksi, dan kalian harus meyakininya dan memberikan haknya, maka maklumat ini adalah maklumat yang bekerja secara otomatis mengangkat siapa saja yang dapat memenuhi kriteria diatas, yaitu siapa saja yang menjadi orang pertama yang meyakini sang nabi maka serta Merta terangkat jadi rasul saksi, dan nabi harus meyakininya, beriman atas haknya, itu artinya maklumat itu adalah maklumat pengangkatan siapa saja yang memenuhi kriteria diatas

Ini maklumat perjanjian Allah dengan para penerima Kitab dan Hikmah

Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):81 - Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".

Dalam maklumat perjanjian ini disebutkan "sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang padamu SEORANG RASUL yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh sungguh beriman padanya"

Ini maklumat Allah kepada para Nabi bahwa siapa saja yang datang padamu ketika kamu telah menerima Kitab dan Hikmah lalu dia membenarkan apa yang ada padamu, maka secara otomatis dia terangkat menjadi rasul saksi, dan kamu harus percaya hal itu atau beriman padanya atau meyakininya sebagai rasul saksi tanpa keraguan dan memberikan haknya. 

Ini artinya ayat ini adalah ayat pengangkatan siapa saja yang dapat memenuhi kriteria yang disebut dalam ayat ini akan otomatis terangkat menjadi rasul saksi dan nabi wajib beriman pada dirinya atau meyakininya sebagai rasul saksi 

Ini sama persis dengan maklumat raja yang tidak menyebutkan nama, melainkan siapa saja yang bisa menyembuhkan dirinya otomatis terangkat  menjadi saudara dan pewaris setengah kerajaan dan perdana menteri harus beriman padanya atau meyakininya dan memberikan haknya

Maklumat Allah diatas tertulis dan mengikat kepada semua penerima kitab dan Hikmah termasuk nabi Muhammad Saw

Golongan-Golongan yang bersekutu (Al-'Aĥzāb):7 - Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri: Muhammad Saw) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.

Dan orang yang datang memenuhi kriteria itu pada masa Nabi Muhammad Saw adalah imam Ali as maka dengan maklumat ini Imam Ali as secara otomatis terangkat menjadi rasul saksi

Mengenai nama abu bakar Umar dan usman

Ada yang bertanya

Anak2 Sayyidina Ali ada yg bernama Abu bakar, Umar dan jg Utsman.
Katanya pengikut Imam Ali, berani ga kasih nama anak mu Abu bakar, Umar atau Utsman? 🙂

Jawab

Itulah bedanya rasul dan manusia biasa sekalipun, sekalipun dianiaya tetap mengutamakan akhlak, kasih sayang dan kepribadian yang sempurna

Beda dengan manusia biasa
_________
Pertanyaan 

klo memang benar2 pengikut Imam Ali, seharusnya ga alergi dong sm Nama2 sahabat trsebut?

Jawaban

Beda ukuran mas bro, ukuran rasul dan manusia biasa, jd gak bisa disamakan

---------

Pertanyaan

Bkn masalah ukuran, apa susahnya sekedar tdk alergi sm nama2 itu.
Haha...katanya pengikut Sayyidina Ali, tp kok benci dg apa yg sayyidina Ali cintai. 🙂

Jawaban

Rasul dan ummat itu beda, nabi dan rasul wajib menunjukkan kasih sayang pada semua orang tanpa pandang bulu meskipun kepada musuh musuh sekalipun

Sedang ummat wajib menunjukkan keberpihakan kepada rasul rasul dengan menunjukkan ketidak sukaan pada musuh musuh rasul agar jelas ummat itu berpihak pada rasul atau musuhnya, bgt nak

_______

Pertanyaan

Rasul itu jg suri tauladan, apa yg dilakukan rasul adlh sebagai teladan ummatnya.
Bnr ga? 🙂

Jawab

Rasul sebagai suri tauladan itu jelas dan ummat juga dituntut menyatakan sikap pada siapa dia berpihak agar jelas dimana ummat itu berpihak

Tidak bisa ummat menyatakan sikap abu abu dengan merangkul semuanya ini justru salah karena segala sesuatu punya ukuran, dan itu bukan ukuran ummat

Artinya ummat bertindak sesuai ukuran dan rasul bertindak sesuai ukurannya pula

Guruh (Ar-Ra`d):8 - Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.

Orang hamil tidak bisa disamakan dgn orang yang tidak hamil karena ukurannya beda

Rasul itu mempunyai perlakuan dan tindakan khusus yang tidak bisa disamakan dengan perlakuan ummat dan tindakan ummat dalam konteks musuh

Jadi dalam konteks musuh ada ukurannya dan ada suri tauladan tersendiri karena ini bukan ukuran umum dan biasa


Masuklah Islam secara sempurna


Sapi Betina (Al-Baqarah):208 - Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (Sempurna), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Untuk menjadi Islam seseorang harus bersyahadat, sebelum bersyahadat seseorang harus didakwahi, itu bagi yang sebelumnya bukan Islam, makanya ada yang namanya pendakwah. Setelah didakwahi maka barulah bersyahadat

Pada masa nabi ketika nabi berdakwah beliau diikuti oleh seorang saksi dari Allah atau Rasul saksi yaitu imam Ali as

Nabi Hud:17 - Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang (Nabi Muhammad Saw) yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Imam Ali as) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa, IMAMAN dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Ini adalah cara semua nabi pembawa syariat dalam berdakwah, contohnya Musa as kepada Fir'aun, beliau ditemani oleh seorang rasul saksi yaitu Nabi Harun as

Demikian pula ketika Nabi Muhammad Saw berdakwah kepada ahlul kitab dari kaum Yahudi dan Nasrani, beliau yang mulia (Nabi Muhammad Saw) ditemani oleh seorang rasul saksi yang mulia pula yaitu Imam Ali as, anak angkatnya sekaligus calon menantunya.

Ketika Ahlul kitab telah menerima Islam, maka mereka bersyahadat, dan kemudian mereka berdoa

Jamuan (Al-Mā'idah):83 - Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (Salah satunya Imam Ali as).

Dalam ayat ini seorang yang beriman harus menggolongkan dirinya bersama orang orang yang menjadi saksi, yaitu menjadi golongan (Syiah) Imam Ali as dan 11 IMAMAN

Karena golongan dalam bahasa Al Qur'an adalah Syiah, sebagaimana termuat dalam surat

Wainna min SYIA'TIHI li Ibrahima

Barisan-barisan (Aş-Şāffāt):83 - Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk GOLONGANNYA (Nuh).

Sehingga menjadi orang beriman wajib menjadi Syiahnya rasul saksi Imam Ali as

Untuk menjadi Syiah imam Ali as harus benar benar terwujudkan dengan baiat atau persaksian, karena itulah sayahadat harus disempurnakan dengan kalimat persaksian kepada kewalian Imam Ali, wali adalah wakil Allah dalam tugas sebagai saksi

Itu artinya syahadat menjalani dua fase, fase masuk Islam dengan ditandai oleh dua kalimat syahadat dan fase kesempurnaan Islam dengan jalan menggabungkan diri kedalam Syiah Ali as

Jamuan (Al-Mā'idah):3 -  Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu AGAMAMU, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Agama mengalami fase kesempurnaan pada masa Nabi Muhammad Saw mendekati ajalnya, itu artinya sebelum fase ini Islam belum memasuki tahap kesempurnaan, kapan masuk kedalam tahap kesempurnaan? Ketika nabi meletakkan tugas kepemimpinan ummat kepada rasul saksi (Imam Ali as) untuk meneruskan tugas risalah yang telah ada

Kapan terjadinya peristiwa peletakan kepemimpinan kepada rasul saksi? Mari kita simak ulasan singkat senjarahnya yang bisa anda baca di wikishia

Berdasarkan riwayat, Nabi Muhammad saw pada 24 atau 25 Dzulkaidah tahun ke-10 bersamaan dengan ribuan orang bergerak dari Madinah ke arah Mekah untuk mengadakan manasik haji. [1] Perjalanan Rasulullah saw ini disebut dengan nama Haji Wada', hajjatul Islam dan hajjatul Balagh. Pada bulan itu, Imam Ali as pergi ke Yaman untuk bertabligh, namun ketika beliau mengetahui tentang rencana perjalanan haji Nabi Muhammad saw, maka beliau bersama beberapa sahabat lainnya bergerak ke arah Mekah dan sebelum manasik haji dimulai, ia bergabung dengan Nabi Muhammad saw. [2] Amalan haji pun selesai dan Nabi saw bersama dengan kaum Muslimin meninggalkan Mekah dan bergerak menuju Madinah.

Turunnya Ayat Tabligh

Jamuan (Al-Mā'idah):67 - Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Kaum Muslimin yang melaksanakan ibadah haji pada hari Kamis, 18 Dzulhijjah sampai di sebuah tempat bernama Ghadir Khum dan sebelum terjadi perpisahan antara penduduk Suriah, Mesir dan Irak, rombongan malaikat Jibril dari sisi Allah swt menurunkan ayat Tabligh kepada Nabi Muhammad saw dan memerintahkannya supaya mengenalkan wali dan washi setelah wafatnya.

Setelah turunnya ayat ini, Nabi saw memerintahkan karavan haji untuk berhenti dan berkata bahwa mereka yang telah sampai di depan supaya kembali dan karavan yang masih di belakang diperintahkan untuk segera bergabung dengan karavan yang telah sampai di Ghadir Khum. [3]

Penyampaian Khutbah

Nabi Muhammad saw, setelah mengerjakan salat Zhuhur menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama Khotbah al-Ghadir. Pada Khotbah itu ia menyampaikan:

"Segala puji syukur hanya bagi Allah swt dan dari-Nya aku mohon pertolongan dan aku beriman kepada-Nya dan kami memohon pertolongan dari-Nya dari bujukan hawa nafsu yang tercela… Allah swt yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui mengabarkan kepadaku bahwa aku akan segera kembali kepada-Nya, aku akan segera memenuhi panggilan-Nya… Aku akan datang terlebih dahulu di tepi telaga Kautsar, kemudian kalian akan memasuki telaga itu, oleh karena itu, perhatikanlah setelahku, bagaimana kalian akan memperlakukan tsaqalain, tsiql Akbar (Alquran) dan tsiql Asghar yang lain (itrahku)…."
Kemudian Rasulullah mengangkat tangan Imam Ali as sehingga orang-orang melihatnya:

"Wahai manusia!Bukankah aku lebih memiliki wilayah dan kewenangan atas kalian? Orang-orang menjawab: 'Iya, wahai Rasulullah!' Kemudian Nabi saw melanjutkan: 'Allah swt adalah waliku dan aku adalah wali kaum Mukminin dan aku lebih memiliki wilayah (otoritas) atas diri kalian sendiri. Oleh karena itu, siapa saja yang menjadikan aku sebagai pempimpinnya (maulanya), maka Ali adalah pemimpin baginya.'
Rasulullah mengulangi kalimat ini sebanyak 3 kali dan bersabda:

"Ya Allah cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan menjadikannya sebagai maulanya dan musuhilah orang-orang yang memusihinya, tolonglah orang-orang yang menolongnya, tinggalkanlah orang yang meninggalkannya. Kemudian Nabi saw berkata kepada orang-orang: Wahai kalian yang hadir, sampaikan pesan ini kepada orang-orang yang gaib (tidak hadir)."

Ilustrasi Peristiwa Ghadir Khum

Sebelum karavan-karavan itu berpisah, Malaikat Jibril turun untuk yang kedua kalinya guna menyampaikankan ayat ke-3 surah Al-Maidah yang terkenal dengan nama ayat ikmal.

«الْیوْمَ أَکمَلْتُ لَکمْ دینَکمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَیکمْ نِعْمَتی وَ رَضیتُ لَکمُ الْإِسْلامَ دیناً»
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu."

Ucapan Selamat kepada Imam Ali as
Pada saat itu, orang-orang yang hadir memberikan ucapan selamat kepada Imam Ali as. Para sahabat yang pertama kali memberi ucapan kepada Imam Ali as terlebih dahulu dari pada yang lainnya adalah Abu Bakar dan Umar. Umar lalu berkata kepada Imam Ali as: "Selamat atasmu, Wahai putra Abu Thalib! Kamu telah menjadi maulaku dan maula setiap laki-laki dan perempuan beriman." [4]

Nabi Muhammad saw memerintahkan supaya kemah-kemah didirikan untuk Imam Ali as dan meminta kaum Muslimin untuk mendatangi Imam Ali as secara ramai-ramai dan mengakui Imam Ali as sebagai pemimpin bagi kaum Muslimin dan memberi salam kepadnya. Semua orang-orang, termasuk istri-istri Nabi dan para istri kaum Muslimin menjalankan perintah Nabi itu.[5]

Catatan kaki

1.Thabrisi, Ihtijāj, jld. 1, hlm. 56; Mufid, hlm. 91; Halabi, jld. 3, hlm. 308.
2. Halabi, jld. 3, hlm. 318 dan 319; Mufid, hlm. 92.
3. Nasai, hlm. 25.
4. Ahmad Hanbal, jld. 4, hlm. 281, Mufid, hlm. 94.
5.Mufid, jld. 1, hlm. 176; Qumi, jld. 1, hlm. 268; Amini, jld. 1, hlm. 9-30.
 ‘Ayāshi, Kitab al-Tafsir, jld. 1, hlm. 332