Kamis, 22 April 2021

Mengapa kita bertawassul


Dalam sebuah kunjungan terjadilah diskusi menarik antara Prof DR H Kadirun Yahya, Msc –seorang angkatan 1945, ahli sufi, ahli fisika dan metafisika dan pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Panca Budi, Medan– dengan Presiden RI pertama Ir Soekarno.

Ia bersama rombongan saat itu diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof Ir Brojonegoro (alm), Prof dr Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.

"Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 profesor-profesor" kelakar Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Kadirun Yahya beserta rombongan. Kemudian Presiden Soekarno mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk.

"Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya," pinta Presiden Soekarno kepada Kadirun Yahya, terkesan khusus.

"Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen (saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu)," kata presiden Soekarno dengan bahasa Belanda.

"Ya, tentang apa itu Bapak Presiden…?"

"Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya." kata Soekarno.

"Lantas soalnya apa Bapak Presiden?"

"Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya," jawab Presiden Soekarno.

"Baik Presiden," kata Prof Kadirun Yahya.

"Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan surga?" tanya Presiden.

"Surga" jawab Kadirun Yahya.

"Accoord (setuju)," balas Presiden terlihat lega.

Menyusul Presiden bertanya untuk soal berikutnya. "Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat surga?" tanyanya.

"Untuk presiden, jenderal, profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana," jawab Kadirun.

"Accoord", kata Bung Karno (panggilan akrab Presiden).

"Nu heb ik je te pakken Professor (sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor)" lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah.

"Saya cerita sedikit dulu," kata Bung Karno.

"Silakan Bapak Presiden".

"Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Alqur'an dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum."

"Lantas saya ketemu dengan satu hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut: Rasulullah SAW bersabda: Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli surga".

"Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk surga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor?" tanya Bung Karno lanjut.

Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

"Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan," katanya.

Keduanya adalah sama-sama eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.

Di atas kertas Prof Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.

10/10 = 1
"Ya" kata Presiden.

10/100 = 1/10
"Ya" kata Presiden.

10/1000 = 1/100
"Ya" kata Presiden.

10/10.000 = 1/1000
"Ya" kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0
"Ya" kata Presiden.

1000.000 … / ∞ = 0
"Ya" kata Presiden.

(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0
"Ya" kata Presiden.

Dosa / ∞ = 0
"Ya" kata Presiden.

Nah…" lanjut Prof,
1 x ∞ = ∞
"Ya" kata Presiden

½ x ∞ = ∞
"Ya" kata Presiden.

1 zarah x ∞ = ∞
"Ya" kata Presiden.

"… ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar."

"Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh Pahala yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.

"Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)" jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . "Geweldig (hebat)" katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. "Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?" katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. "Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan."

"Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati," jelasnya.

"Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan?" tanya Presiden kemudian.

"Melalui isi dada Rasulullah," jawab Prof. "Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya: Bahwasanya Alqur'an ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia," (Abi Syuraihil Khuza'ayya RA), lanjutnya.

Prof menyambung, "Begitu juga dalam QS. Al-Hijr:29 –Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya".

“Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT," jelas Profesor Kadirun Yahya.

Kadirun Yahya melanjutkan, "Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri."

Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti: Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!

Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanya pun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanya pun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat".

"Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)," jelas Prof Kadirun Yahya.

Kadirun Yahya menyimpulkan, "Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi."

"Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?" tanya Presiden.

Prof menjawab, "Memperbanyak salawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah Ta'ala.

Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa salawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang (HR. Abu Daud dan An-Nasai).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : "Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku".

Sontak Presiden berdiri. "You are wonderful" teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presiden pun bermohon: "Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum di belakang hari nanti".

Inilah alasannya mengapa kita harus bersholawat kepada nabi Muhammad Saw dan Ahlulbaitnya, Allahumma Sholli Ala Muhammad wa'Aali Muhammad, harus pakai wa 'Aali Muhammad jika tidak maka tidak sempurna sholawat mu, itu artinya dari Allah SWT tersambung kepada Nur Muhammad dan 'ali Muhammad, siapa mereka? Ya 4 Ahlul baitnya + Rasul saksi yang suci dan 9 rasul saksi yang suci lainnya. 

Merekalah penyambung frekwensi Allah kepada diri kita, dan harus selalu ada, ibarat pemancar yang selalu harus ada disekitar radio atau hp,  jika tidak maka sinyal kita gak mungkin sampai kepada Allah

Nah beda dengan mereka karena mereka adalah para rasul sinyalnya sudah pasti sampai kepada Allah makanya gak perlu menyeru kepada selainNya karena sinyalnya Allah langsung tersambung kepada mereka. Kalo kita karena sinyal harus lewat pemancar atau rasul maka kita harus melalui para Rasul

Itulah mengapa kita bertawassul kepada nabi atau para rasul Ahlul baitnya

Upaya pemberantasan Hadis keutamaan Imam Ali as

Kaum Nawâshib Memberantas Hadis Keutmaan Imam Ali as
Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:
(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!
(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!
(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.
(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!
(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!
(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.
(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menndingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.
(8) Dll.
Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.
Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.
Contoh Kekejaman Para Penguasa Tiran
Kekejaman para penguasa tiran terhadap para pecinta Nabi saw. dan keluarga suci kenabian tidak hanya terbatas pada para penguasa rezim Umayyah. Para penguasa rezim Abbasiyah juga tidak ketinggalan dalam menekan, mengintimidasi serta menyiksa siapa saja yang berani-berani berjuang dalam menyampaikan sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Ahlulbait as.
Banyak kisah sedih kekejaman para penguasa dan aparatnya dalam rangka membrangus sabda-sabda suci Nabi saw. dan dalam usaha mereka untuk menyegel mulut-mulut para muhaddis agar tidak menyebar luaskannya.
Di bawah ini saya akan sebutkan kisah perjuangan Nashr ibn Ali (seorang ulama) dalam penyampaikan sebuah hadis suci Nabi saw. yang mendapat siksa keras agar membuatnya dan rekan-rekan sejawatnya jerah!
Kisah Perjuangan Nasr ibn Ali Dalam Menyebarkan Hadis Kutamaan Imam Ali as.
At Turmudzi dan para muhaddis lain meriwayatkan dari Nashr ibn Ali al Jahdhami, ia berkata, Ali ibn Ja’far[1] telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, ’saudaraku Musa mengabarkan kepadaku dari Ja’far ibn Muhammad ayah beliau dari ayah beliau Muhammad ibn Ali dari ayah beliau Ali ibn Husain dari ayah beliau dari kakek beliau Ali ibn Abi Thalib bahwa Rasulullah saw. memegang tangan Hasan dan Husain lalu bersabda:
مَنْ أَحَبَّنِيْ وَ أحبَّ هَذَيْنِ و أباهُما وَ اُمَّهُما كان مَعِيْ في درجَتِيْ يومَ القيامةِ
“Barang siapa mencintaiku dan mencintai kedua anak ini, ayah dan ibu keduanya maka ia bersamaku satu derajat denganku kelak di hari kiamat.”[2]
Al Khathib al Baghdâdi dalam Tarikhnya meriwayatkan, “Abu Abd. Rahman ibn Abd. Allah berkata, ‘Ketika Nashr menyampaikan hadis ini, Al Mutawakkil[3] memerintahkan agar ia dicambuk seribu cambukan. Ja’fa ibn Abd. Al Wahid memohon kepada Al Mutawakkil agar membatalkan hukuman itu, ia berkata kepadanya, ‘Dia adalah seorang dari Ahlulsunnah!’ Al Mutawakkil tetap memerintahkan agar Nashr terus dicambuk, dan Ja’far pun terus memohon dan akhirnya cambukan itu dihentikan… Al Khathib berkata, “Al Mutawakkil memerintahkan agar Nashr dihukum cambuk karena ia menyangkannya sebagai seorang rafidhi, namun setelah ia yakin bahwa Nashr dari Ahlusunnah ia hentikan.”[4]
Apa yang aneh dan membuat Al Mutawakkil begitu murka! Apakah kandungan hadis ini bertentangan dengan Al quran dan sunah Nabi saw?! Atau para perawi yang menjadi perantara periwayatan hadis ini para pembohong?! Bukankan mereka adalah para panutan umat dari keturunan Rasulullah saw. yang telah disepakati para ulama akan kejujuran dan keagungan mereka?!
Coba pembaca perhatikan kembali nama-nama perawi hadis ini! Bukankah Anda temukan nama-nama harum dari putra-putra Rasulullah saw.; 1) Ali ibn Ja’far (kakek seluruh dzurriyyah/para saadah asal Hadhramaut) yang sangat diagungkan umat, 2) Imam Musa Al Kadzim as., 3) Imam Ja’far ash Shadiq as.,4) Imam Muhammad Al Baqir as., 5) Imam Ali Zainal Abidin ibn Husain as., 6) Imam Husain as., 7) Imam Ali as.
Inilah salah satu bukti kekejaman Al Mutawakkil. Dan apabila Anda bertanya kepada sebagian ulama, siapa sejatinya al Mutawakkil itu? Apa jasa-jasanya terhadap kemurnian sunnah? Pastilah mereka akan mengatakan, “Ia adalah Khalifah yang sangat besar perhatiannya terhadap sunnah Nabi!”. Al Suyuthi berkata, Al Mutawakkil dibai’at setelah kematian Al Watsiq, bulan Dzul Hijjah tahun232 H. Segera setelah itu ia menampakkan kecenderungannya kepada sunnah, membela ahlinya dan meniadakan mihnah, ujian (penyiksaan/cobaan) atas mereka!…. Sampai-sampai orang-orang berkata, “Para Khalifah itu ada tiga; Abu Bakar dalam memerangi orang-orang murtad, Umar ibn Abd. Aziz dalam mengembalikan hak kepada orang yang dizalimi dan Al Mutawakkil dalam menghidupkan sunnah dan mematikan faham Tajahhum (Mu’tazilah)”.![5]
Apakah Sunnah yang sedang diperjuangkan oleh al Mutawakkil itu? Jika benar ia memperjuangkan Sunnah Nabi saw. mengapakah ia menyiksa seorang alim yang dengan hati tulus meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait Nabi as.?! Atau Sunnah yang dimaksud adalah Sunnah bani Umayyah dan para Munafik?

________________________________________
[1] Ali ibn Ja’far adalah putra bungsu Imam Ja’far as., ia dikenal sangat alim, rendah hati, dan teladan dalam ketaqwaan. Ia diberkahi umurnya sehingga hidup sezaman dengan Imam Jawad putra Imam Ali Ar Ridha putra Imam Musa Al Kadzim (kakak Ali ibn Ja’far ra.) dan meyakini keimamahannya walaupun dari sisi kekeluargaan beliau adalah berpangkat kakek sepupu terhadap Imam Jawad as. Ditegaskan oleh para sejarawan dari kaum Sâdah sendiri, seperti Al Syilli dalam Masyra’ ar Râwi bahwa beliau bermazhab Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsnâsyariyah. Beliau adalah kakek para sâdah (para sayid keturunan Rasulullah saw.) yang tinggal di Hadhramaut dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam, seperti Indonesia, Malaysia, beberapa negara di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika dll.
[2] At Tirmidzi dalam Sunan (dengan syarah al Mubârakfûri).10, 237, Manâqib Ali ibn Abi Thalib, bab 93 hadis 3816, Ahmad dalam Musnad,1.168 hadis 576, Fadhail al Shahabah.2,694 hadis 1185, Al Khathib, Tarikh Baghdad, 13/287, Ibnu Asakir, Tarikh Damaskus, pada biodata Imam Hasan: 52 hadis 95 dan 96 dan Al Khawarizmi dalam Manâqib:138 hadis 156, Ibnu Al Maghazili dalam Manâqib:370, Abu Nu’aim dalam Tarikh Ishfahan:1192,dll.
[3] Al Mutawakkil nama lengkapnya Ja’far Abu Al Fadhl ibnu Al Mu’tashim ibn Harun Ar Rasyid. Ia dibaiat sebagai Khalifah setelah Al Wastiq pada bulan Dzul Hijjah tahun 232H. Para Ulama Sunni menyebut Al Mutawakkil sebagai “Khalifah Rasulullah” yang sangat consen terhadap kemurnian sunnah Nabi saw. mereka memuja dan menyanjungnya dan menggelarinya sebagai penyegar sunah dan pemberantas bid’ah!! (Baca sebagai contoh Tarikh al Khulafâ’; As Suyuthi:320).
[4] Al Khathib, Tarikh Baghdad,13/289.
[5] Tarikh Al Khulafâ’:320

Selasa, 20 April 2021

Ulama Sunni bertawassul kepada Imam Syiah

ULAMA SUNNI DAN GURUNYA BERTAWASSUL KE MAKAM IMAM SYI'AH

(*) Ibnu Hibban bertawasul ke makam  imam ‘Ali bin Musa Ar-Ridha

قد زرته مرَارًا كَثِيرَة وَمَا حلت بِي شدَّة فِي وَقت مقَامي بطوس فزرت قبر عَليّ بن مُوسَى الرِّضَا صلوَات الله على جده وَعَلِيهِ ودعوت الله إِزَالَتهَا عَنى إِلَّا أستجيب لي وزالت عَنى تِلْكَ الشدَّة وَهَذَا شَيْء جربته مرَارًا فَوَجَدته كَذَلِك أماتنا الله على محبَّة المصطفي وَأهل بَيته صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الله عَلَيْهِ وَعَلَيْهِم أَجْمَعِينَ

"Aku telah berziarah ke kuburnya berulang kali dan tidaklah aku mengalami kesulitan saat berada di daerah Thus. 
Aku berziarah ke kubur ‘Ali bin Musa Ar-Ridha, semoga Allah melimpahkan shalawat untuk kakeknya dan dirinya, kemudian berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan melainkan doaku dikabulkan dan hilanglah kesulitan yang kualami. 
Perkara ini sudah kulakukan berulang kali dan aku selalu mengalami hal yang sama. Semoga Allah mewafatkan kami di atas kecintaan kepada Al-Musthafa (saww) dan Ahlulbaitnya, shalawat dan salam Allah atasnya dan atas mereka seluruhnya."

[Muhammad bin Hibban. Al-Tsiqat. Tahqiq: Muhammad 'Abdul Mu'ayyad Khan, cet. 1, jld. 8 (Hyderabad: Da'irah al-Ma'arif al-'Utsmaniyyah, 1393 H/1973 M). Hlm. 457]

(*) Gurunya Ibnu Hibban yang bernama Hasan bin Ibrahim Al-Khallal sebagaimana tercatat dalam kitab Tarikh Madinat al-Salam (Tarikh Baghdad), berikut:

أحمد بن جعفر بن حمدان القطيعي قال سمعت الحسن بن إبراهيم أبا علي الخلال يقول ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفر فتوسلت به إلاّ سهل الله تعالى لي ما أحب

Ahmad bin Ja’far bin Hamdan Al-Qathi'i berkata: Aku mendengar Al-Hasan bin Ibrahim Abu ‘Ali Al-Khallal mengatakan:

"Tidak ada perkara yang menyusahkanku lalu aku mendatangi kubur Musa bin Ja’far (imam ke-7 Syi'ah) dan bertawasul dengannya melainkan Allah Ta’ala memudahkan apa yang kuinginkan."

[Tarikh Madinat al-Salam. Tahqiq: Basyar 'Awad Ma'ruf, cet. 1, jld. 1 (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1422 H/2001 M). Hlm. 442]

Oleh Ahira Aisyah

Kamis, 15 April 2021

Manusia rasa binatang

Pencipta (Fāţir):28 - Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ADA YANG BERMACAM-MACAM WARNANYA (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Allah menyatakan, bahwa yang namanya manusia itu mirip sekali dengan binatang melata dan binatang ternak, bermacam macam warnanya. Itu dapat dilihat dari kesejajaran penyebutan yang Allah sebutkan dalam ayat diatas. Manusia, binatang melata dan binatang ternak, satu baris kalimat, sejajar. Yang dapat dimaknai sebagai satu kemiripan, sejenis, sebab jika tidak maka mustahil Allah sebutkan dalam kesejajaran dalam kalimat ayat diatas. Kesejajaran karena memang memiliki kemiripan. Ya mirip wataknya kayak binatang melata dan bintang ternak. Ada yang mencari makan dimalam hari kayak tokek, ada yang mencari dipagi hari, ada yang mulutnya berbisa dan lidahnya bercabang dua dan ada pula yang persis seperti bunglon, ada yang tunduk tunduk menanduk kayak kerbau dan banteng, ehh dia nunduk saat masih ada nabi, dia nunduk patuh ketika nabi belum wafat

Begitu nabi wafat dia menanduk kanan kiri, membantai ratusan bahkan mungkin ribuan sahabat nabi saat perang Ridda hanya gara gara orang gak mau bayar zakat kepadanya

Siapa dia? Ah sudahlah anda sudah taulah siapa dia, gak enak disebut namanya nanti banyak pencintanya yang uring uringan karena dia dikenal tunduk saat nabi hidup, masa bisa nanduk saat nabi wafat?

Lah itu kata Allah manusia mirip sekali dengan binatang melata dan binatang ternak makanya dikasih satu deretan dalam ayatNya

Masa Allah bohong sih?

Kamunya aja yang ketipu, sudah diingatkan bahwa manusia itu ada yang kayak bunglon tapi gak percaya, di tengah tengah nabi  dia baeeeek banget, eh giliran nabi wafat dia maksa untuk berkuasa dan naudzubillah, nyawa orang kayak gak ada harganya, lebih rendah dari seekor anak kambing, dia bersumpah akan memerangi siapapun yang gak menyerahkan anak kambing yang dulu pernah mereka berikan kepada nabi, dia mau disamakan dengan nabi padahal dia bukan nabi 🤭

Dia maksa menjadi pengganti nabi dalam memimpin ummat padahal dia bukan pengganti nabi

Siapa yang pantas menjadi pengganti nabi? ya orang yang disebut dalam ayat selanjutnya

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. 

Ulama itu adalah orang yang mempunyai ilmu, gimana bisa dikatakan punya ilmu sedang ayat at Taubah 103 saja dia gak paham?

Pengampunan (At-Tawbah):103 - Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu (RASUL) MEMBERSIHKAN dan MENSUCIKAN MEREKA (UMMAT) dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Urusan zakat itu adalah hak prerogatif Rasul, karena ada fungsi membersihkan dan MENSUCIKAN ummat, gak bisa selainnya.

Nah dia bukan rasul koq maksa orang harus bayar zakat kepada dirinya? Apa dia bisa membersihkan dan mensucikan ummat? Kalo gak bisa maka dia benar benar gak paham ayat ini, gak punya ilmu dalam hal zakat, maka itulah dia gak takut kepada Allah

Dia main bantai orang seenaknya

Isi Perjanjian antara Imam Ali as dan Muawiyah laknatullah alaih

Ini isi perjanjian antara Imam Ali as dan Muawiyah laknatullah alaih di perang Siffin

Dalam perjanjian itu disebutkan 

"Ini adalah perjanjian yang ditandatangani oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin abu Sufyan

Ali mewakili penduduk Iraq dan orang orang yang BERSAMANYA serta kaum muslimin dan Muawiyah mewakili penduduk Syam dan orang orang yang BERSAMANYA dari kalangan kaum mukminin dan muslimin"

Jika kita cermati maka akan kita dapati kenyataan:

Ali mewakili penduduk Iraq dan orang orang yang BERSAMANYA (Syiahnya) serta kaum muslimin (bukan Syiahnya) tapi berada didalam pasukannya

Kalimatnya jelas membedakan antara orang orang yang BERSAMANYA serta kaum muslimin, itu artinya ada dua golongan yang berada didalam pasukan imam Ali as, yaitu Syiahnya atau orang yang bersamanya yaitu pengikut setianya yang dikenal dengan sebutan Syiah karena Syiah sendiri artinya pengikut setia, golongan kedua adalah kaum muslimin atau umat Islam secara umum yang bukan Syiahnya. Mereka inilah yang kemudian sebagian akan berbelok menjadi khawarij dan sebagiannya lagi akan menjadi kelompok yang ikut menyurati imam Husain as agar datang ke Irak sehingga dibunuh oleh Ziyad pasukan Yazid

Kedua Muawiyah mewakili penduduk Syam dan orang orang yang bersamanya (Pengikut setianya) dari kalangan Mukminin dan muslimin

Itu artinya Muawiyah mewakili penduduk Syam (yang tidak jelas keimanannya) dan 
Orang orang yang bersamanya (Syiahnya atau pengikut setianya) dari kalangan Mukminin dan muslimin 

Itu artinya ada tiga golongan yang bersama Muawiyah
1. Penduduk Syam yang tidak jelas keimanannya (pasukan gabungan kemungkinan kaum kafir sewaan dan kaum pagan yang ikut kedalamnya)
2. Syiahnya (pengikutnya)  dari kalangan orang beriman dan Islam (kemungkinan jumlah mereka sangat kecil Krn termakan hasutan dan godaan jabatan) golongan inilah yang sebagian menjadi khawarij dan membentuk pasukan sendiri untuk berencana membunuh Imam Ali as, Muawiyah, dan Thalhah laknatullah alaih

Jadi Muawiyah hanya mewakili tiga golongan tersebut, yang salah satunya adalah kaum mukminin dan muslimin, (yang nantinya sebagian darinya jadi khawarij)

Lalu Muawiyah sendiri apakah beriman? Ya tentu tidak disebutkan dalam perjanjian itu, itu artinya dia benar benar kafir

Karena yang beriman dan Islam hanyalah golongan ketiga dari orang yang dia wakili (yang kemungkinan jumlahnya sangat sedikit)

Kemudian isi perjanjiannya bahwa mereka semua sepakat berhukum kepada hukum Allah dan kitabNya

Ini biasa memang di kalangan kaum kafir Quraisy  ketika mereka dihadapkan pada situasi sulit maka mereka akan memurnikan ketaatan tapi begitu sdh aman mereka kembali musyrik 

 Laba-laba (Al-`Ankabūt):65 - Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)

Artinya ketika dihadapkan pada situasi sulit kayak ditengah laut tiba tiba mereka taat benar kepada Allah tetapi ketika sudah diselamatkan dari amukan laut mereka kembali kafir

Inilah tipikal kaum kafir Quraisy, sama seperti Muawiyah dan pasukannya ketika dihadapkan pada amukan pasukan imam Ali as dan mereka hampir kalah maka mereka tiba tiba memurnikan ketaatan kepada Allah

"Biarkan Allah jadi hakim diantara kita" sambil mengikat Al Qur'an diujung tombak tombak mereka sehingga kaum muslimin yang berada dibarisan imam Ali as enggan melanjutkan peperangan, sehingga terjadilah peristiwa perjanjian diatas

Setelah aman? Ya mereka kembali kafir dan membuat kerusakan di muka bumi

Minggu, 11 April 2021

Tragedi Yang menimpa Sayyidah Fatimah as

TRAGEDI PEMBAKARAN RUMAH FATHIMAH AZ-ZAHRA AS MENJADI BUKTI BAHWA KHILAFAH ABU BAKAR BUKANLAH HASIL IJMA’ MELAINKAN PEMAKSAAN! (1)

NB: Riwayat2 yang saya paparkan dibawah ini bersumber pada referensi sunni/ahlussunnah, maka bagi anda yang sunni janganlah tersinggung, tapi pikirkanlah secara matang demi kebaikan kualitas kehidupan anda di akhirat kelak!

Berikut ini sejumlah referensi dari riwayat sunni/ahlussunnah:

1. IBN ABDURROBBIH
Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdurrobbih dalam kitabnya al-Aqd al-Farid Vol 5, Hal 13, Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Riyadh, Saudi Arabia, tahun 1404 H/1983 M, menuliskan sebagai berikut: Umar bin khaththab membawa api untuk membakar rumah Fatimah az-Zahra as. Fatimah bertanya: "Wahai putra Khaththab, engkau ingin membakar rumahku?" Umar menjawab "Ya". [Lihat gambar screenshoot kitabnya]

2. IBN QUTAYBAH DAINURI
Abu Muhammad Abdulllah Ibn Muslim Ibn Qutaybah Dainuri (lebih dikenal di kalangan Ahlu Sunnah dengan sebutan Ibn Qutaybah, meninggal tahun 276H) dalam kitabnya yang berjudul ‘Al-Imamah wa al-Siyasah, volume 1, halaman 12, edisi ke-3, dicetak di Mesir (dalam 2 volume yang disatukan). Di bawah bab yang diberi judul “Cara Ali berbai’at” lengkap dengan rantai sanadnya, Abdullah Ibn Abdurrahman Ansari menulis:
“Sesungguhnya, pada satu hari Abu Bakar mencari tahu siapa saja orang-orang yang menolak berbai’at kepadanya dan siapa saja orang-orang yang telah mendukung Ali berdiri di belakang Ali. Ia kemudian menyuruh Umar untuk mengejar orang-orang itu dan waktu itu mereka sudah berkumpul di rumah Ali. Ketika mereka hendak keluar dari rumah itu, Umar berteriak dengan keras, “Kumpulkanlah kayu bakar.” Umar berteriak-teriak menyuruh para pengikutnya. “Aku bersumpah demi Dia yang Satu yang nyawa Umar ada di tanganNya! Keluarlah. Kalau tidak aku akan bakar rumah ini beserta orang-orang yang ada di dalamnya.” Seseorang berseru, “Wahai Abu Hafs! Apakah kamu tidak tahu bahwa Fathimah ada di dalam rumah itu?” Umar balas menghardik orang itu, “(“Aku tidak peduli”) Bahkan walau Fathimah ada di dalamnya sekalipun.”

3. YAQUBI
Senada dengan para ulama di atas, Yaqubi dalam Tarikh-nya, volume 2, halaman 137, dicetak di Beirut, dengan judul “Pemerintahan Abu Bakar”, menuliskan sebagai berikut:
“Ketika Abu Bakar menderita sakit keras—penyakit yang akhirnya menggiringnya kepada kematian, Abdurrahman Ibn Auf datang menjengguknya dan bertanya kepadanya, “Wahai khalifah Rasulullah! Apa kabar gerangan tuan?” Abu Bakar menjawab, “Tentu saja baik. Aku tidak pernah menyesalkan apapun yang kulakukan kecuali tiga hal dan aku berharap aku tidak pernah melakukannya ……… Tiga hal telah aku lakukan dan aku berharap tidak pernah melakukannya ialah: Aku berharap aku tidak tidak pernah memakai belenggu kekhalifahan ini! Aku berharap aku tidak pernah ikut menyerbu rumah Fathimah! Aku berharap aku tidak pernah menyerang para pengikutnya, bahkan meskipun mereka menyerangku terlebih dahulu dan menyatakan peperangan denganku!”

4. BALADHURI
Ahmad Ibn Yahya—lebih dikenal sebagai Baladhuri (meninggal tahun 279H), dalam kitabnya yang berjudul Ansaab al-Ashraaf dicetak di Mesir, volume 1, halaman 586, dalam bab Saqifah Affair, hadits no. 1184, menuliskan:
Madaaeni mengutip dari Salmah Ibn Muharib dari Sulayman al-Timi dari Ibn Aun, yang mengatakan sebagai berikut:
“Abu Bakar mengirimkan orang-orang untuk mengambil bai’at dari Ali yang menolak untuk patuh dan mengikuti mereka yang sudah berbai’at. Pada saat yang bersamaan, Umar sedang mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Ali. Fathimah berdiri di belakang pintu dan berkata kepada Umar, “Wahai putera Khattab! Aku melihatmu menyalakan api untuk membakar rumahku.” Umar menjawab, “Betul. Dan aku tidak tergoyahkan sedikitpun dalam pendirianku sebagaimana ayahmu tidak tergoyahkan dalam agamanya,”

5. IBN QUTAYBAH DAINURI
Sekali lagi kita akan kemukakan keterangan dan fakta dari Ibn Qutaybah yaitu dalam kitabnya yang terkenal di kalangan Ahlu Sunnah yang berjudul Al-Imamah wa Al-Siyasah, volume 1, halaman 18, di bawah judul bab “Insiden Saqifah dan Percakapan Mengenainya”. Ibn Qutaybah menuliskan rantai sanad dari Abdullah Ibn al-Rahman al-Ansari:
“Setelah itu, Abu Bakar memerintah selama dua tahun dan beberapa bulan hingga kemudian ia terjatuh sakit dan selama masa sakitnya ia mengakui sesuatu: “Sesungguhnya, penyakit parah sudah meliputiku …… dan aku bersumpah demi Allah! Aku tidak pernah menyesalkan segala sesuatunya dari hidupku itu kecuali tiga perkara yang sudah aku lakukan. Aku berharap bahwa aku tidak pernah melakukan tiga perkara itu. Aku berharap aku tidak pernah meninggalkan rumah Ali meskipun ia misalnya mengumumkan perang kepadaku!”

6. BALADHURI
Sekali lagi dari Baladhuri dalam buku yang sama yaitu yang terdapat dalam halaman 587, H. 1188, dimana ia menulis bahwa Bakr Ibn Haytham menyampaikan kepadaku dari Abd al-Razaq, dari Muammar, dari Kalbi, dari Abu Saaleh, dari Ibn Abbas yang mengatakan:
“Bahwa Ali menolak untuk berbai’at kepada Abu Bakar dan memilih untuk tetap tinggal di rumahnya mengisolasi diri. Abu Bakar memerintahkan Umar untuk mendatangi Ali dengan sebuah perintah khusus: “Hadirkan Ali ke hadapanku seburuk apapun kondisinya.” Ketika Umar datang kepada Ali segera terjadi pertengkaran yang sengit antara keduanya. Ali bersabda, “Wahai Umar! Bawalah setengah dari hartamu itu di pundakmu. Demi Allah! Tidak akan engkau seserakah ini terhadap kekuasan dan kursi pemerintahan Abu Bakar kecuali karena esok lusa ia akan memberikannya kepadamu.”

7. ISMAIL IMADDUDIN
Ismail Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Umar Ibn Shahanshah Ibn Ayyub, raja Muayyid Imaddudin (meninggal tahun 732H), dalam kitabnya “Al-Mukhtasar fi Akhbaar al-Bashar,” dicetak di Mesir, volume 1, halaman 156, dengan menyebutkan rantai sanad-sanadnya, menuliskan sebagai berikut:
“………Setelah itu, Abu Bakar memerintahkan Umar untuk menyeret Ali keluar, dan juga menyeret mereka yang ada di dalam rumah Fathimah. Abu Bakar berkata kepada Umar, “Apabila mereka menolak untuk keluar, maka perangilah mereka.” Pada saat yang sama, Umar pergi ke rumah Fathimah sambil membawa api untuk membakar rumahnya, ketika ia bertemu dengan Fathimah, Fathimah menyapanya, “Hendak kemana gerangan engkau, wahai putera Khattab? Apakah engkau hendak membakar rumah kami?” Umar menjawab dengan ketus, “Ya, benar. Aku hanya iba dan penuh belas kasihan apabila mereka yang ada di dalam rumahmu itu keluar dan mau berbai’at kepada Abu Bakar seperti yang sudah dilakukan oleh umat.”

8. UMAR RIDHA KAHHALEH
Umar Ridha Kahhaleh, seorang ahli fatsir Sunni kontemporer (masa kini), dalam kitabnya yang berjudul “A’laam al-Nisaa”, edisi ke-5, dicetak di Beirut, circa 1404H, ketika membicarakana tentang Hazrat Fathimah binti Muhammad, setelah menyebutkan rantai sanadnya secara terperinci, ia menuliskan sebagai berikut:
“Abu Bakar mempermasalahkan mereka yang menolak untuk berbai’at kepadanya dan malah memilih untuk berkumpul di rumah Ali, seperti: Abbas Zubayr, dan Sa’ad Ibn Ubaddah. Mereka sedang duduk-duduk di rumah Fathimah dan mereka tidak mau berbai’at. Abu Bakar memerintahkan Umar untuk mengambil bai’at dari mereka. Umar pergi ke rumah Fathimah dan berteriak-teriak (meminta mereka keluar dan berbai’at kepada Abu Bakar) sesampainya di sana. Mereka menolak keluar dari rumah Fathimah. Pada saat inilah Umar meminta para begundalnya untuk mengumpulkan kayu bakar dan berkata keras, “Aku bersumpah demi Dia Yang Satu yang nyawa Umar ada di tanganNya! Keluarlah dari rumah Fathimah atau aku akan bakar rumah ini beserta orang-orang yang ada di dalamnya! Seseorang berkata kepada Umar, “Wahai Aba Hafs (menyapa Umar dengan nama panggilannya)! Fathimah ada di dalam rumah itu!” Umar balik membentak, “Aku tidak peduli walau Fathimah ada di dalamnya. Aku akan tetap membakarnya.”

9. MUHAMMAD HAFIDZ IBRAHIM
Muhammad Hafidz Ibrahim adalah seorang penyair kontemporer di kalangan Ahlu Sunnah. Ia meninggal pada tahun 1351H. Ia telah memuji-muji setinggi langit perkataan Umar “AKAN AKU BAKAR RUMAH INI MESKIPUN FATHIMAH ADA DI DALAMNYA.” Di dalam koleksi puisi-puisinya yang diterbitkan pada tahun 1937M di Beirut, volume 1, halaman 82, dalam judul “Eulogies to Umar”, dalam bab “Umar dan Ali” , ia menuliskan sebagai berikut:
“Betapa benar dan bagusnya pernyataan Umar kepada Ali
Hormatilah orang-orang yang pernah mendengarnya, dan muliakanlah orang yang pernah mengatakannya.
(Umar berkata) Aku akan bakar rumahmu hingga tak satupun orang yang tetap hidup di dalamnya
Jika kalian tidak berbai’at maka tak ada satupun yang selamat
Walapun Fathimah binti Muhammad ada di rumah itu
Tiada lagi orang sehebat dan seberani Abu Hafs
Yang berani melontarkan kata-kata seperti itu
Diantara orang-orang yang paling berani dalam sebuah pasukan
Dialah yang paling berani dari keturunan Adnan”

10. SHAHRASTAANI
Abu al-Fath Muhammad Ibn Abd al-Karim Ibn Abi Bakr Ahmad Shahrastaani (meninggal tahun 548H) dalam karyanya yang berjudul Al-Milal wa an-Nihal, diterbitkan di Beirut, tahun 1404H, volume 1, halaman 57, ia menuliskan sebagai berikut:
Nazzam pernah berkata: "Sesungguhnya, pada hari pembai’atan, Umar memukul Fathimah di perut sedemikian kerasnya hingga Fathimah mengalami keguguran”
(Nazzam: Ibrahim Ibn Sayyar Ibn Haani Mu’tazali—ia adalah salah seorang pemuka aliran Mu’tazilah di masa hidupnya. Ia meninggal pada tahun 231H)

11. DHAHABI
Sejarawan Sunni terkemuka ini bernama Dhahabi (meninggal pada tahun 748H). Dalam kitab sejarahnya yang terkenal yaitu Lisan al-Mizaan, volume 1, halaman 268, no 824; di dalam sebuah bagian dalam kitabnya yang diberijudul halaman Ahmad, ia menguraikan panjang lebar mata rantai sanad yang ia kutip. Ia menuliskan di sana:
“Muhammad Ibn Ahmad Ibn Hammaad al-Kufi—seorang penghapal hadits dari kalangan Ahlu Sunnah telah mengatakan: “Tidak ada keraguan lagi sama sekali, Umar telah menendang Fathimah begitu kerasnya sehingga ia mengalami keguguran (al-Muhsin, puteranya yang masih berada dalam rahimnya itu syahid sebelum ia dilahirkan).”

12. SAFDI
Salahuddin Khalil Ibn Aibak Safdi (meninggal pada tahun 764H) dalam kitabnya Al-Waafi bil Wafayat, diterbitkan di Beirut, sekitar tahun 1401H, volume 6, halaman 17, Ibrahim Ibn Sayyar, no 2444—Nazzam Mu’tazali—ia menuliskan sebagai berikut:
“Nazzam Mu’tazali memiliki pandangan yang kuat bahwa Tidak ada keraguan sama sekali bahwa Umar telah menendang Fathimah begitu kuatnya sehingga ia keguguran janin bayinya yang diberinama al-Muhsin (yang masih berada di dalam rahimnya)”

13. IBN QUTAYBAH DAINURI
Ibn Shahr Aashub Sarvi (meninggal tahun 588H), dalam kitabnya yang terkenal Al-Manaqib, volume 3, halaman 132, menceritakan sebuah fakta sejarah yang dikutip dari kitab Al-Ma’arif tulisan dari Ibn Qutaybah Dainuri (meninggal tahun 276H) ketika menggambarkan putera-puteri yang dimiliki oleh Fathimah.
“Putera-puteri Fathimah itu ialah: Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum dan tentu saja Al-Muhsin—yang syahid karena terjangan Fanqadh Adwi,” penulis itu menuliskan. “Di dalam kitab Al-Ma’arif tulisan Ibn Qutaybah cetakan moderen dituliskan di sana, “Ali itu memiliki beberapa orang anak yang nama-namanya ialah sebagai berikut: Hasan, Husein, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab al-Kubra. Ibu dari mereka ialah Fathimah binti Muhammad Rasulullah. Akan tetapi Muhsin Ibn Ali meninggal ketika ia masih bayi!!!” Para peneliti dan para ahli sejarah bisa menjadi saksi dari banyak sekali penyimpangan fakta yang begitu melimpah di kalangan Ahlu Sunnah—dan ini adalah salah satunya.”
(Kitab yang asli dari Ibn Qutaybah—yang diterbitkan lebih awal—bisa menjadi bukti kuat bahwa penyimpangan fakta seringkali dilakukan oleh kaum Ahlu Sunnah demi menjaga kemuliaan Umar Ibn Khattab).

14. UMAR RIDHA KAHHALEH
Umar Ridha Kahhaleh—seorang ulama Sunni kontemporer—dalam kitabnya yang terkenal A’laam al-Nisaa, diterbitkan di Beirut, sekitar tahun 1404H, volume 4, halaman 122—124, ia menuliskan sebagai berikut:
“Setelah itu Abu Bakar berkata kepada Umar, “Marilah kita pergi ke rumah Fathimah karena kita telah membuatnya marah. Setelah keduanya sepakat, maka mereka berdua menemui Fathimah di rumahnya. Mereka meminta izin untuk memasuki rumah Fathimah akan tetapi Fathimah tidak mereka izin. Kemudian keduanya pergi menemui Ali agar mau mempertemukan mereka berdua dengan Fathimah. Ketika mereka berdua sampai di hadapan Fathimah, Fathimah memalingkan muka dari keduanya dan memilih untuk menatap tembok rumahnya. Abu Bakar dan Umar mengucapkan salam kepada Fathimah akan tetapi Fathimah tidak menjawabnya. Abu Bakar memulai pembicaraan dengannya. Ketika pembicaraannya selesai, Fathimah berkata kepadanya, “Apabila aku sampaikan sebuah hadits dari Rasulullah, akankah kalian mendengarnya dan sanggup untuk memenuhinya?” Umar dan Abu Bakar berkata kepada Fathimah, “Tentu saja kami mau menyanggupinya”
Fathimah berkata kepada keduanya, “Aku akan ambil sumpah demi Allah dari kalian berdua; apakah kalian pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Keridhoan Fathimah itu adalah keridhoanku; dan murka Fathimah itu adalah murkaku. Kemudian barangsiapa mencintai puteriku Fathimah, maka ia sesungguhnya mencintaiku; dan barangsiapa membuatnya bahagia, maka sesungguhnya ia telah membuatku bahagia. Barangsiapa yang membuat Fathimah marah, maka ia telah membuatku marah.”
Mereka berdua menjawab, “Ya, tentu saja, kami telah mendengar itu dari Rasulullah.”
Fathimah kemudian berkata lagi dengan keras, “Lalu sesungguhnya aku akan mengambil Allah dan para malaikat sebagai saksiku bahwa kalian berdua telah membuatku murka dan tidak pernah membuatku bahagia. Kalau nanti aku bertemu dengan Rasulullah, akan aku akan adukan kalian berdua kepadanya.”

Minggu, 04 April 2021

Apa agama nabi Muhammad Saw sebelum menerima Wahyu?



Agama bangsa Arab sebelum nabi Muhammad Saw menerima Islam adalah agama Tauhid Milla ibrahim namanya (Milla dapat diartikan "cara" atau "panduan")

Mereka menyembah Allah juga, hanya saja mereka menyekutukannya dgn berhala diantaranya latta dan uzza

Dalilnya?. Ini

Laba-laba (Al-`Ankabūt):63 - Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "ALLAH", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).

Mereka sudah mengenal Allah, dari mana? Ya dari nabi Ibrahim as, mereka memeluk agama Ibrahim as, syariatnya? Ya syariat nabi Ibrahim juga seperti diantaranya ber haji ke baitullah 

Jadi sebelum Islam Muhammadi datang atau nabi menerima Wahyu maka agama penduduk Arab adalah agama Ibrahim as, ini dibuktikan dgn pelaksanaan haji

Hanya saja syariat mereka  telah rusak dengan perilaku yang tdak disyariatkan, begitu pula dengan akidah mereka tidak lagi lurus seprti agama Ibrahim yaitu Tauhid, karena telah tercampur dengan penyembahan kepada latta dan uzza

Mereka berdoa kepada Allah juga tapi juga menyembah latta dan uzza

Laba-laba (Al-`Ankabūt):65 - Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)

Inilah yang disebut musyrik, makanya disebut musyrikin Quraisy, atau kafir Quraisy

Nah nabi Muhammad Saw tetap beragama Tauhid mengikuti Milla ibrahim as

Makanya nikahnya ya pake milla Ibrahim, jadi sebelum menerima Wahyu nabi Muhammad Saw adalah orang beriman, bertuhankan Allah yang esa, masih tauhid sama pula dengan Imam Ali as yang masih kanak kanak dan demikian pula paman dan kakeknya, ayah ibunya masih beragama Tauhid Milla ibrahim